Saya merasa baru sebentar ikut sebuah situs pertemanan yang juga ada link ke majalah kita tercinta – Twentea. Saya betah sekali ngubek-ngubek di situ situ. Meski ada teman saya yang berkomentar: “Yaelah Put, banyak kali situs pertemanan yang lebih seru” dengan tendensi melecehkan, bagi saya. Sebab, si teman tidak tahu betapa saya mendapatkan reputasi saya di situs pertemanan itu. Reputasi macam apakah itu? Galak. Hahaha! Saya komentator yang galak dan percaya diri, dan bangga karena hal itu.
Kenapa ya, saya merasa dilecehkan oleh komentar si teman itu? Entahlah. Menurut saya komentar dia tidak mutu dan tidak membangun. Lantas saya tanya balik: “Memang di sono lu bisa ngapain aje?”. Di sono maksud saya adalah di situs pertemanan yang dia ikuti. Dia hanya menjawab kurang lebih begini: “Lo bisa komentar bebas banget dan seru banget”.
Astaga. Tidak guna sekali kalau begitu.
Lantas saya dan si teman kembali pada aktivitas kami masing-masing dan tidak membahas situs pertemanan kami masing-masing lagi.
Begitulah awal mula saya berpikir tentang ide saya untuk menjadi komentator yang baik. Bahwa, saya yakin setiap dari kita yang punya pikiran mesti ada semacam bawaan alam bawah sadar untuk berkomentar. Bisa karena pro bisa juga karena kontra. Nah, apapun tujuannya baik pro atau kontra, mesti tetap dilakukan dengan baik.
Bagaimanakah itu? Ada beberapa hal yang saya maknai sendiri pada akhirnya.
Pertama, menjadi komentator tidak sama dengan menjadi provokator. Maksud provokasi saya dalam hal ini tentu untuk tujuan negatif. Itu yang disayangkan, dan disesali. Jika provokasi untuk seru-seruan sih, saya suka sekali melakukannya. Hahaha! Karena tujuan seru-seruan ini, cukup sering saya menjelajah situs-situs yang bisa saya komentari. Hitung-hitung saya meninggalkan jejak tapak saya di tempat yang saya komentari alias demi eksistensi diri. Maka, demi agar saya tidak berubah menjadi provokator-negatif, saya lihat-lihat situasi dulu untuk menyamakan selera humor saya dengan apapun yang akan saya komentari tersebut.
Kedua, menjadi komentator tidak perlu selalu tahu. Jika memang tidak tahu, komentari saja bahwa Anda memang tidak tahu. Ini akan lebih baik, dan terasa lebih bijak. Tentu komentator yang saya maksud, berbeda dengan menjadi komentator Sepak Bola ataupun komentator lain yang membutuhkan pengetahuan dahulu sebelumnya. Namanya juga berlatih. Sebab, saya mengalamkeuah situs pertemanan berlatar belakang dunia tulis menulis yang juga masih berhubungan dengan majalah Twentea tersayang ini. Apakah itu? Berjumpa dengan komentar tak penting. Bagi saya, sungguh suatu hal menyebalkan menjumpai komentar macam “Bagus. Kunjungi karya terbaru saya yah.” Tidak ada esensinya sama sekali. Lebih menyenangkan bagi saya jika ada yang berkata : “Wah, saya tidak paham yang ini. Kenapa kamu … … … Kunjungi saya juga ya!”. Lebih menyebalkan lagi jika bukannya berkomentar malah jadi curhat. Khusus yang ini, acuannya kembali ke poin pertama saya di atas. Kenali dulu tempat atau karya yang akan kita komentari.
Ketiga, alias yang terakhir. Khusus untuk yang kontra, saya pikir alangkah bijak jika disertai masukkan atau pun alasan kenapa Anda kontra. Sebab apa? Anda akan menjadi komentator yang bertanggungjawab dengan melakukan hal itu. Tentu menyebalkan mendapati pernyataan “Gak suka!”, “Jelek banget…”, “Aneh sekali” dan lain sebagainya tapi tidak ada masukkan apapun untuk memperbaiki. Seperti halnya poin kedua, poin terakhir ini pun acuannya tetap pada poin mula-mula. Kenali dulu medan perang sebelum berkomentar.
Lantas, apa yang dapat saya simpulkan dari semacam kuliah singkat saya tentang menjadi komentator yang baik ini?
Jangan pernah abaikan komentar. Komentar adalah bagian dari berkomunikasi. Komentar dapat pula difungsikan sebagai timbal balik atau feedback. Komentar baik yang Anda terima dapat dijadikan sebagai pemicu untuk menjadi lebih baik lagi. Dalam hal ini, baik bukan berarti menyanjung puja-puji kosong. Komentar yang baik bisa juga berupa kritik pedas tapi membangun. Dan komentar yang baik – termasuk di dalamnya kritik pedas yang membangun – yang Anda lontarkan, menandakan Anda telah berpartisipasi mendukung adanya timbal-balik yang baik.
Selamat berkomentar!
Artikel Terkait
- Pertanyaan Bermutu Untuk Bos
- Filosofi Kacamata Kuda Dalam Berkarya
- Mengasah Kemampuan Menuju Sukses
- Diam Bukan Lagi Berarti Emas
- Mengatasi Kegugupan dengan Kejujuran



Halaman Facebook
Ikuti kami di Twitter
January 12th, 2009 at 11:01 am
Kalo yang suka bilang “pertamax!” gitu gimana nih Put?
Rese banget ya orang-orang macam itu (maling teriak maling) :D
January 12th, 2009 at 1:32 pm
@ felix _ hahaha gtu2 juga paling besar se indonesia loh.. dan masalah dengan yg paling besar itu ya sekali lagi, pendidikan.. ga heran klo ada istilah pertamax gtu, tapi kadang2 lucu juga sih liatnya :P
ada juga yg komen duluan sebelom baca textnya.. kayaknya itu yg paling nyebelin..
“bentar ya gan baca dulu” apa sih??
jadi inget pengalaman gue jualan di fs.. jelas2 udah ada harganya.. pake komen lagi “berapa harganya?” sesudah itu jadi ada 3 orang lain yg ikut2an komen yg sama.. cape deh.. :P
January 12th, 2009 at 1:51 pm
@Richard Fang: aduh gw jadi ga enak nih… gw suka gitu tuw, kalo liat judulnya cukup menantang contoh: “rambu-rambu pacaran di kantor” (milik twentea jg :) kadang liat judulnya udah gregetan pengen komentar (pedahal blon baca) eh bgitu komentar, ternyata yg dikomentarin udah ditulis di artikelnya… akhirnya jadi malu sendiri… hmmmm rasanya harus dirubah nih perilaku yg satu ini.
January 12th, 2009 at 3:27 pm
aku setuju dengan semua poin kecuali nomor 2. kalau tidak tahu, aku memilih diam. daripada bilang, “wah, saya tidak tahu soal ini.” selain keliatan bego, itu komentar ndak penting juga. IMO lhooo ^^
kedua, aku lebih suka komentar yang mengkritik secara positif ketimbang ho oh doang. “wah, saya ndak setuju, karena begini lho… bla bla bla…” terasa lebih berguna ketimbang yang isinya cuma, “ho oh yak, setuju banget!” ya elo setuju karena apa? hellooo… punya kepala ndiri kan? mosok setuju doang tanpa bilang alesannya paan?! IMO juga lhooo ^^
btw, situs pertemanan yang dimaksud, fesbuk kah?
January 12th, 2009 at 4:14 pm
@ hendrik _ hehehe ga ada maksud loh, :P maksud gue sih yg di kaskus gtu hohoho yah gue kaskuser juga sih tapi suka risih aja klo ada yg kek gtu hahaha
@ dian _ yup, klo gue misal stuju banget (persis kayak yg gue pikirin) pasti ga komen, mau komen apalagi hehehe n klo gue ga stuju pasti komen donk pake alesan biasanya..
January 13th, 2009 at 12:37 am
Kalo pertamax doank, ta hapus … :) Kalo ada komentar lainnya, pertamaxnya saya hapus. I hate that word :)
January 13th, 2009 at 5:15 am
@Ivan @ NavinoT:
Hahaha, sepertinya Ivan sangat anti-pertamax y. :D
Mungkin ada ekspresi lain yang lebih sesuai selain itu?
January 13th, 2009 at 8:21 am
Paling bete emang ama org yang treak “PERTAMAX!” bingung g buat apa??
January 13th, 2009 at 9:09 pm
Kayanya bukan “Pertamax” atau “Gak pake Pertamax” yang jadi masalahnya, tapi yang ada di belakang pertamax itu meaning atau nggak, yah ga papa juga kalo abis pertamax dia punya point #2 atau malah #3.
Kalo menurut saya sih, comment pada blog, forum, atawa web2.0 lainnya, bisa jadi indikator site itu sukses apa gak. semua juga kayana setuju :D
misal, bisa liat dun banyaknya comment per postnya nickLa di webdesignerwall yang always bisa nyampe angka ratusan, walaupun sebagian besar cuma bilang “cool”,”nice article”,”thanks”.
So kayana ga salah juga kalo merka cuma nulis “thanks” or what everlah di article kita, bukannya itu tujuannya web 2.0 bukan…u’r not only seen!
Dan yang pasti soal orang yang nulis pertamax itu tuh :D, seenggaknya pasti dia loyality visitors, ga mungkin juga dia baru masuk ke site itu trus nulis “Pertamax” :D
mereka juga pasti loyality Visitor
so nguntungin site traffic kita juga kan, he3x…….
January 15th, 2009 at 4:24 pm
yeah… kalian semua jadi saling berkomentar. bageus…
gyahahahahahaa…..
agak addict ma fesbuk sih, tapi ud mule sembuh dari OCD kok. hohoho …
January 17th, 2009 at 9:18 am
kayaknya ada temen yg ampe bikin posting panduan buat komen di blog :D
ada jg bbrp web/blog yg kontennya/tulisannya mutu banget ampe ngga bs dikomen lg :) saking bagusnya…bener2 lengkap
komen banyak tdk selalu berkorelasi dg kepopuleran cmiiw
kadang komen krn blogwalking balasan ngga mesti tjd/dipaksakan
btw tulisan di twentea emang asyik ternyata :)
January 23rd, 2009 at 6:49 pm
btul sh..
& sebgai komentator yg baik, “sya rasa kulyah sngkat yg k2a’ sajikan ckup baik, mlah mendekti baik”..!
suatu ggasan yg di kemas ringan, dgn penyajian unik yg dpat membuka ckrawala berfkir kt akn bersosialisasi ( karna juga komentar bagian dr sosialisasi ) & dpat melihat bukn hnya pd satu arah, tpi juga melihat dr sdut pandang org lain..!
salut deh..
he..3
g’ ingn betrima kasih ats komentar sya..?
he..3
cnda deng..
January 5th, 2010 at 7:28 pm
Bagaimana seharusnya kita menyikapi komentar yang tidak mutu ?
Apakah langsung menghapusnya ?
Saya rasa itu sangatlah tidak etis dan membuat orang itu ogah komentar ke blog kita
atau website kita lagi
Tapi . . .
Apakah kita tanggapi dengan men’ceramah’nya untuk tidak mengulanginya ?
Saya rasa sangatlah tidak penting dan malah OOT sama postingnya
atau bila seseorang meminta kita untuk membalasnya ke e-mail mereka ?
Jadi bagaimana kita menyikapinya ???
Please dijawab yah saya butuh sarannya,
Maaf bila kata – kata saya cukup membingungkan maklum saya nubie
January 8th, 2010 at 11:07 am
@Graha: menurut saya ga masalah kamu menjadi agak egois juga. jika menurutmu itu kurang berguna wat kamu dan bahkan gak guna untuk si penanya. tidak selalu segala sesuatu butuh penjelasan tersurat/langsung.
tentang nubiew (newbie) ah ga usah terlalu diurus. saya kebetulan kurang suka dengan alasan senioritas yang gak logis.
nah lhoh, semoga kamu gak binun lagi amin..