Senin, 7 Agustus 1995, sehari setelah ulang tahun saya yang ke-21, berkumpul orang-orang di depan Aula Kantor Pusat (AKP), IPB, melihat pengumuman kelulusan dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Beberapa orang memberikan selamat kepada saya. “Selamat ulang tahun”, “Panjang umur ya…” Saya dengan biasa menyambut mereka. Mengucapkan terima kasih. Fokus saya tertuju pada pengumuman di tembok gedung AKP.
Melihat papan pengumuman dan mengurut no. registrasi mahasiswa, saya berhenti pada G.290071—itu nomor mahasiswa saya—Program Studi Ilmu Komputer, jari saya bergerak ke kanan dan menemukan kata-kata: KELUAR….!
DROP OUT… DROP OUT.
Beneran, saya DROP OUT dari IPB.
Dunia rasanya gelap, perut mual, saya limbung. Membaca sekali lagi, dan kata-kata KELUAR masih tertulis disitu. Saya DROP OUT. Seumur hidup saya, inilah hadiah ulang tahun yang paling “mengesankan”.
Segera saya datangi Pak Andi Hakim Nasution (sudah almarhum), Dekan FMIPA saat itu. Apa yang beliau bilang?
“Orang-orang seperti kamu tidak pantas kuliah di IPB”
Saya makin limbung.
Saya datangi Bapak Julio, dosen Bahasa Pemrograman yang memberikan nilai F, dan membuat nilai indeks prestasi kumulatif saya menjadi 1.98, hanya kurang 0.02 untuk selamat dan tidak drop out. Apa yang Pak Julio bilang?
“Saya juga dulu drop out waktu kuliah di Inggris…”
Saya bingung. Apakah masalah pribadi bisa ditimpakan kepada orang lain?
Saya datangi Bapak Abdurrauf Rambe, Ketua Jurusan. Saya protes karena teman saya—Tulus—yang menggunakan kursi roda, ternyata ‘selamat’, dan mendapatkan dispensasi untuk tetap kuliah, tidak jadi drop out. Pak Rambe hanya bilang (ini juga yang menyakitkan saya),
“Tulus itu cacat (dia menggunakan sepeda motor berdoa tiga dan tongkat kalau kuliah-red), kamu mau disamakan dengan orang cacat. Sebenarnya IPB tidak layak menerima mahasiswa cacat seperti dia…”
Saya marah!
Marah semarah-marahnya, bagaimana mungkin seorang pendidik mengucapakan kata-kata menyakitkan seperti itu.
Sejak itu, saya mengubah pola berpikir saya, bukan saya yang tidak layak kuliah di IPB, tapi IPB tidak layak menjadi tempat saya menuntut ilmu; dengan pola pikir pengajar yang menganggap orang-orang yang memiliki handicap, baik fisik maupun kepintaran, dikatakan tidak semestinya ada di IPB.
Sejak itu saya tidak lagi berusaha untuk menjadi mahasiswa IPB. Saya tidak mau memaksakan diri meminta rekomendasi ini dan itu, agar selamat dari IPB, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang teman saya yang memiliki sanak saudara yang menjadi pejabat di IPB.
Saya Pulang
Saya bersimpuh di pangkuan orang tua, menangis sejadi-jadinya. Menangis karena telah melukai dan membuat kecewa hati orang tua yang mengerahkan segenap tenaga untuk membiayai kuliah saya di IPB. Dari 7 anaknya, saya adalah anak ke-dua yang bisa melanjutkan pendidikan hingga tingkat sarjana.
Besoknya saya mendatangi Bapak Ansroi Mattjik (sekarang Rektor IPB), dan meminta untuk diberikan transkrip agar bisa melanjutkan studi di perguruan tingggi lain.
Dua minggu saya mencari kampus, dengan uang seadanya, saya naik kereta ke Jogya, menuju kampus UGM, INSTIPER, ke Solo menuju UNS, kemudian ke Malang menuju UNIBRAW, dan ke Bandung menuju IKIP (sekarang UPI).
Pulang dari Bandung, saya ke tempat kost kawan saya, Muhammad Hamdani, saya ambruk. Jatuh dan muntah darah. Setengah liter mungkin darahnya, merah kehitaman. Darah saya berceceran di lantai kost Hamdani. Hamdani segera mengontak Anto yang memiliki mobil, untuk mengantarkan ke rumah saya.
Sampai di rumah, ibu saya panik dan segera membawa saya ke RSTP (Rumah Sakit Tubercola dan Paru-paru) di Cisarua. Terima kasih untuk Hamdani dan Anto, kalian sungguh teman baik saya.
Tujuh belas hari saya dirawat di RSTP, 114 teman yang menjenguk saya (saya buat buku tamu dan teman ke-100 yang membesuk, saya beri hadiah cokelat silver queen).
Tekad dan Titik Perubahan
Saya pulang dan mendapat hadiah sebuah buku, Seven Habbits of Haighly Effective People. Saya terperangah, saya tergugah.
“Bukan kondisi yang menentukan kualitas hidup seseorang, melainkan bagaimana dia menghadapi kondisi tersebut”
Itu kata Stephen R. Covey, penulisnya. Saya baca sampai 4 kali buku itu, dan sejak itu saya bertekad untuk mengubah hidup saya dan menyatakan bahwa harga diri saya bukan diukur dari IPK. Saya baca buku lain yang menggugah, Anthony Robbins, Norman Vincent Peale, dan lainnya.
Ada yang menggelegak dalam dada saya untuk dikeluarkan. Kemarahan yang tadinya membuncah dalam dada, perlahan menjadi energi yang menggerakan tangan dan pikiran saya untuk mengubah kemarahan itu terangkai menjadi kata-kata. Bertahun-tahun saya menjadi sangat gila membaca, melahap pemikiran orang. Buku seperti obat bagi saya. Saya lega, ketika setiap emosi, kemarahan, kegalauan yang saya rasakan akhirnya tertuang menjadi kalimat, terangkai menjadi paragraf dan terakumulasi menjadi sebuah pemikiran. Saya kumpulkan terus pemikiran-pemikiran tersebut.
Tahun 2002, saya mengajukan pemikiran saya yang sudah menjadi buku ke penerbit PT Elexmedia Komputindo. Saya ditolak mentah-mentah, karena bahasa yang saya gunakan adalah bahasa gaul. Saya diminta kembali 1 tahun kemudian.

Buku "ampuh" - karya Baban Sarbana
Setahun kemudian saya mengajukannya, dengan segala macam perbaikan. Buku pertama saya akhirnya diterima untuk diterbitkan pada bulan September 2002.
Sabtu, 21 September 2002 di Koran Kompas, pada saat usia saya 28 tahun, buku pertama saya, AMPUH: Menjadi Cerdas Tanpa Batas yang berisi pengalaman saya kuliah di IPB dan drop out, menjadi buku paling laku no.2, di bawah Undang-Undang Dasar dan GBHN (karena buku ini biasanya diwajibkan).
Saya sujud syukur. Ternyata kemarahan yang begitu mendominasi hati saya, bertransformasi menjadi sebuah buku yang diterima dengan sangat baik oleh masyarakat. Yang lebih menyenangkan adalah buku tersebut dilaunching di IPB, kampus yang telah menganggap saya mati, tidak pantas, tidak layak untuk melanjutkan studi. Sangat menyenangkan dan memuaskan ketika saya bisa sharing tentang bagaimana menjadi cerdas di kampus yang menganggap saya tidak cerdas.
Saya melanjutkan studi di kampus Universitas Pakuan, menjadi Mahasiswa Cemerlang, dan wusidawan dengan IPK tertinggi. Saya kemudian mendapat beasiswa dari Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga untuk menyelesaikan kuliah di Pascasarjana Universitas Indonesia.
Saya kini mengelola Helmy Yahya House of Idea dan bekerja di bidang kreatif pada rumah produksi PT Triwarsana. Pekerjaan yang tidak menuntut kepintaran, tapi menuntut kelenturan berpikir. Menulis menjadi pekerjaan utama saya saat ini, dan kini sedang menyelesaikan beberapa buku dengan Helmy Yahya dan Ade Rai.
Walaupun saya merasa tidak terlalu pintar, saya yakin bahwa semua orang pada dasarnya pintar. Cara mengajar pendidiknya yang kemudian mengklasifikasikan satu orang siswa lebih bodoh dari siswa yang lain.
Pintar bisa dibatasi oleh dosen, cerdas adalah pilihan.
Tamat.

Baban Sarbana
Tulisan diatas ditulis oleh Baban Sarbana untuk acara Riak Hadiah yang diadakan oleh ArusMedia secara serempak di seluruh blog. Baban Sarbana berhasil merebut juara pertama pada Twentea.
Pastikan anda tidak ketinggalan suguhan teh Twentea! Anda bisa berlangganan melalui RSS feed, email. Anda juga bisa bergabung dengan grup Facebook.



Halaman Facebook
Ikuti kami di Twitter
January 19th, 2009 at 1:07 pm
Sangat inspiratif dan luar biasa!
Gw sampai merinding pas baca bagian mas Baban muntah darah. Luar biasa perjuangannya, salut 1000%.
Sekali lagi selamat telah menyabet gelar juara ya mas.
January 19th, 2009 at 1:25 pm
Horeeee…Selamat ya mas Ban :D
January 19th, 2009 at 2:14 pm
nice… selama yah
January 19th, 2009 at 7:11 pm
bersakit-sakit dahulu..
bersenang2 kemudian
*0*
btw, bersakit apa berakit sih?
ko gw jd lupa gini..
January 20th, 2009 at 9:05 pm
terima kasih ya responnya.
Insyallah buku yang saya tulis masih akan terbit cetakan ke-6, Februari ini…. semoga manfaat. Doakan punya kekuatan untuk terus menulis.
Oh ya, buat nama yang saya sebut, mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Saya sudah membebaskan semua perasaan yang menekan. Keluarganya adalah sahabat-sahabat saya kini.
Ada cerita menarik tentang Pak Julio…(dia sekarang sangat baik sekali) mungkin berminat baca..
http://lebahcerdas.blogdetik.com/2008/11/28/surat-dari-malaysia-pak-dosen-killer-diinsyafin-tukang-bakso/
with warmth to share..
lebah cerdas
January 20th, 2009 at 11:24 pm
berakit dong cha
masa lupa sih, ketawan pas SD jarang dengerin ibu guru ya :D~~~~
January 25th, 2009 at 10:59 pm
wow must be a brave man :)
gimana ya rasanya di DO? gak bisa bayangin gelapnya dunia
saya pas gagal tes ngelamar kerja aja udah pusing serasa dunia terlalu kejam dan sadis heh5x…. *PEMIKRAN INI jangan ditiru, dosa ya!, namanya gak bersyukur :) *
Salut untuk pak baban sarbana.
do the best, pray to GOD, let GOD do the rest :)
January 26th, 2009 at 3:45 pm
terima kasih sangat inspiratif sekali…!!!
February 12th, 2009 at 8:45 am
Kang selamat yak…
och pantes setiap kutanya kuliah di IPB apa bukan… selalu gak dijwb ama kang baban… ternyata ada pengalaman sendiri dengan yang namanya IPB hehehehe
sekali lagi kang selamat yak… ditunggu traktirannya di bogor
February 13th, 2009 at 3:22 pm
salam kenal kang Baban, saya terinspirasi sekali dengan kisah hidup kang baban, krn saya tahu pada saat kejadian kang baban DO karena menjadi pembicaraan seantero kampus pada saat itu. Saya pada saat itu anak baru, TPB 31 (1994), dan kang Baban salah satu RCD ( red : kalo dulu TPB yang tidak naik tingkat disebut RCD), yang baik, dan tidak menakutkan. Sekali lagi selamat dan TERUS BERKARYA.
March 23rd, 2009 at 1:10 am
wow….tulisan ini membuat saya berpikir kembali tt apa yang telah saya lakukan selama saya kuliah. terima kasih
May 20th, 2009 at 9:01 pm
Berarti sy adek kelas donk,
sy diajar Pak Julio di matkul Algoritma Pemograman dan Bahasa Pemograman…
Pak Julio mjd dosen favorit di angkatan sy…
Bapaknya baik kok…
Sabaaaarrr bgt….
January 25th, 2010 at 6:05 pm
Assl. Mas baban,sebetulnya apa yang mas baban rasakan adalah bagian dari logika Tuhan. Ini logika tuhannya, penderitaan sama dengan sukses, semakin pedih penderitaan yang kita rasakan seakin besar kesuksesan yang akan kita dapatkan. Sedikit orang memahami logika ini, maka tidak jarang pd saat kita mendapatkan penderitaan akhirnya putus asa karena mengartikan penderitaan sama dengan hancur lulu lantak dsb, padahal logikanya bukan itu.kitga harus belajar memahami logika2 Tuhan. (Lihat alam nasyrah ayat 5 dan 6) itulahlogikakejadian yang menimpa mas baban. Dibalik kesulitan (penderitaan) ada keudahan. Thinks!!! Saya sudah tulis buku berjudul hidup sukses dengan logika tuhan. Belum terbit banyak yang tolak!