Categorized | Keseharian

Aku Cinta Bahasa Indonesia

“Oh gitu yah? Whatever! Gw ga pusing”, “Masa sih? Actually I didn’t know about that before“, “Gilak! Are you serious?“, “Oh my gosh, really?“, “Sumpe loh! You gotta be kidding me!“, “Ya gitu-gitu lah, something like that” … itulah beberapa cuplikan dari contoh-contoh bahasa inggris yang diselipan pada percakapan oleh para presenter di televisi/radio dan teman-teman kita yang merupakan korban akibat-terlalu-internasional.

27295717_97ba88262f_bMereka tidak sadar bahwa mereka lahir, tumbuh, pernah bersekolah, dan 100% warga negara Indonesia tulen. Tapi mengapa mereka tidak bisa mencintai bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional negaranya sendiri? Mereka menyelip-nyelipkan kosa kata bahasa inggris atau berbicara campur-campur Indonesia dan inggris di dalam percakapan sehari-hari mereka. Tindakan itu sebenarnya merupakan pemerkosaan/penghinaan terhadap negaranya sendiri.

Saya memiliki beberapa teman yang melanjutkan studi kuliah, kuliah lanjutan dan bekerja selama lebih dari 5 tahun di luar negeri. Mereka telah mengalami “masa berbicara bahasa inggris 100%” dalam hidupnya, dan mungkin juga mereka telah bermimpi dalam bahasa inggris di saat tidurnya. Ketika mereka kembali ke Indonesia, saya agak kaget karena mereka berbicara dalam bahasa Indonesia yang baik tanpa perlu menyelipkan bahasa inggris.

Tapi mengapa ya, mereka yang “100% lokal” gemar sekali berbicara campur-campur?

  • Mungkin biar dicap “anak gaul” cap internasional.
  • Mungkin mereka beranggapan hal itu bisa membedakan status sosial mereka yang menurut mereka lebih dari rata-rata orang kebanyakan.
  • Mungkin biar dianggap orang berkecukupan yang sering bolak-balik luar negeri.
  • Mungkin mereka bangga karena pernah ngeles bahasa inggris oleh staf pengajar bule dari Kerajaan Inggris Raya.

Sesekali waktu, di saat mereka sedang sibuk cas-cis-cus bahasa inggris, kita tanya saja: “Lulusan luar negeri yah mbak/mas?”.

Pastikan anda tidak ketinggalan suguhan teh Twentea! Anda bisa berlangganan melalui RSS feedemail. Anda juga bisa bergabung dengan grup Facebook.

Foto oleh: quaisi

Artikel Terkait


Tentang Penulis

Felix Widjaja. Felix adalah salah satu dari penggagas Twentea dan sehari-hari sibuk menjalankan agensi web desain Stucel. Selain bertanggung jawab untuk menjaga penampilan Twentea agar selalu yahud, ia juga terkadang menulis artikel (salah satunya adalah yang barusan anda baca diatas). Oiya, Felix juga memiliki blog bersama istrinya di SodaSoup.

Buat kios gratis dan langsung jualan online di QiosQu

31 Komentar Untuk Artikel Ini

  1. Hendrik mengatakan:

    wahahah tenang2… nulis artikelnya keknya sambil emosi nih… intinya sih BIAR GAUL… pedahal kadang ngomongnya grammar nya salah lol.

    ReplyReply
  2. Lany mengatakan:

    Tapi ndak bisa dipungkiri lagi sih, sudah terlanjur terbentuk persepsi kalo bahasa lokal kita itu dicap biasa banget, gak gaul, gak pro, dsb. Apalagi klo ditambah berlogat bahasa daerah (jawa, sunda) malah dibilang NDESO.
    Kepriben ini?

    ReplyReply
  3. Fera Tang mengatakan:

    kalo kt cinta laura… “chill aja kaleee”
    hahahhaha

    ReplyReply
  4. chunz mengatakan:

    wah2..iya nih, ini mah curhat sbnrnya, tp dimodif biar jadi sepercik topik yg bisa dibahas rame2…asik sih, jadi kita bisa tau seberapa pandai tuh orang dalam bhs inggris. jangan2 saking terobsesinya dengan bhs inggris gara2 ga lulus waktu smp jadi kaya gitu x….

    sukses buat twentea….

    recommended seller nih gan….

    ijo2 buat mo2d nya d….

    wakakakaka

    ReplyReply
  5. Richard Fang mengatakan:

    biar gaul n status itu, kayaknya klo campur2 gtu dia lebih tinggi gtu statusnya.. mungkin juga lingkungan sekitarnya kayak gtu semua, jadi kebawa..

    tapi yg annoying ( lah ini campur2 lagi :P ) ya itu si laura love

    ReplyReply
  6. Icha Anwar mengatakan:

    yah abis gmn lg dong.. kadang2 ada beberapa ekspresi yang lebih pantes diucapin dgn bahasa lain. kadang lebih simple dibanding bahasa Indonesia.
    dan ada beberapa hal yang jadi ga banget klo diucapin pk bahasa Indonesia.
    bukan berarti ga cinta bahasa sendiri lho!

    tapi karna bahasa itu universal, dan unik!
    misalnya kita bilang ‘makan’ ke teman
    tapi banyak juga yg bilang ‘mam’ ke anak kecil. walopun itu bukan bahasa Indonesia yang benar, tapi buat gw blg ‘emam/mam/mamam’ itu cara lain kita blg ‘makan’ ditambah dengan kasih sayang / manjain mereka.

    harusnya memadukan bahasa asing dan Indonesia itu buat ajang latihan conversation, dari pada terlalu idealis dgn bahasa lokal tapi nyatanya emang ga siap untuk global. Menurut gw yang harus di highlight adalah bagaimana naturalisme + sikon org yg ngomong kali ya,,

    ReplyReply
  7. Dina mengatakan:

    Wah, jangan berprasangka negatif dong, bung. Mungkin mereka lulusan Jurusan Sastra Inggris. Hahaha

    ReplyReply
  8. Felix Widjaja mengatakan:

    @Icha: Bukankah sebaiknya latihan ‘english conversation’ dilakukan dengan berbicara full dalam bahasa ingris tanpa memadukan dengan bahasa Indonesia kali ya?

    @Dina: Sama sekali tidak ada prasangka negatif bu. Jurusan Sastra Ingris juga saya yakin pasti lebih bijaksana dalam ‘memilih senjata’ dalam berbicara. Dalam artian, tidak memadukan 2 senjata menjadi 1 :D

    Perlu diingat, artikel diatas tidak anti orang Indonesia yang berbicara inggris 100% di dalam percakapannya. Tapi artikel diatas mencoba mengkritisisi orang Indonesia yang gemar mencampur-adukan bahasa inggris di percakapan bahasa Indonesianya.

    ReplyReply
  9. Zamdesign Zamroni mengatakan:

    orang2 indonesia
    banyak yang
    krisis identitas
    efek globalisasi

    ReplyReply
  10. RB. Raditya Mahendrata mengatakan:

    Bukan berarti mereka krisis identitas. Mereka mungkin cuma mengucapkan, “Wassup Bro.. Pakabar…” tapi mereka masih sudi menyempatkan diri ke seminar pemanasan global untuk menyelamatkan hutan Indonesia. Atau mengucapkan “I love you…” tapi masih menyisihkan beberapa rupiah demi menyelematkan anak-anak Indonesia yang putus sekolah.
    Terlalu sempit kalau bilang mereka melupakan bahasa mereka sendiri. Toh, pendidikan negara mereka yang mengharuskan mereka menguasai bahasa inggris kan?
    Don’t judge book from it’s cover, I guess…

    ReplyReply
  11. Felix Widjaja mengatakan:

    @Raditya Betul bro, di sini tidak ada juga yang meragukan sisi nasionalisme mereka yang gemar campur-aduk :)

    ReplyReply
  12. Andradi mengatakan:

    Hmmm, kadang emang pake kata-kata bhs ing lebih nyaman.. Lagian padanan kata dalam bhs ind belum tentu ada… Contohnya nama situs ini, bayangin aja kalo diterjemahin jadi bhs ind kayaknya ga mungkin de (twenteh, duapuluhteh…) :-p

    ReplyReply
  13. Yofie Setiawan mengatakan:

    wah kalau menu2 website juga biasanya pake bahasa inggris… lucu sih kalau “home” di ganti “beranda”… ahh… bingung hahaha…

    ReplyReply
  14. Putri Sarinande mengatakan:

    tenang saja, Felix. saya dukung kamu dalam upaya penyelamatan Bahasa Indonesia, dan upaya menjaga lokalitas (pernah dengar ada beberapa Bahasa Daerah dari beberapa penjuru negara di dunia yang nyaris musnah?)

    yes, I learn English to conquer, NOT to follow…

    memang benar, ada padanan kata yang tidak ada dalam versi Bahasa Indonesia. pertanda apakah itu? pertanda bahwa Bahasa Inggris memang benar masih menjadi Bahasa Internasional, katanyah mah…

    tidak benar bahwa berbahasa Indonesia yang baik dan benar harus kaku kayak robot dan patuh EYD. ini hanya upaya untuk menjaga Bahasa Indonesia agar tidak punah.

    saya baca di KOMPAS, bahwa Presiden Negara Indonesia lebih memilih pidato dalam bahasa Nginggris duluan lalu Indonesia. padahal, dalam Olimpiade Beijing saja Presiden Cina berpidato dalam Bahasa Cina lantas diterjemahkan dalam Basa Nginggris…

    tidak perlu membahas si twentea yang kalok diterjemahkan jadi twen-teh. atawa home jadi beranda. bahas sajah bahasa campur aduk ala Laura-Love…mo bicara santai sajah kok musti jadi chil chil ajah? *nah, kalok ini sih benar sud mule sentimen sayah. hahaha…

    ReplyReply
  15. Ferdian Adi mengatakan:

    Seperti Icha dan Raditya sampaikan, sebenarnya kita harus melihat bagaimana kealamiahan dan situasi kondisi orang yang bicara. Jadi kita tidak akan menghakimi sampul sebuah buku……

    …duuh, belibet banget sih pake EYD. Tetapi mas Felix nggak salah juga, memang banyak yg bergaya seperti itu. Apalagi bila gaya seperti itu di bawa seorang artis yg notabene public figur, gampang dicontoh deh kalo pas dia main sinetron. Payah deh.

    Jadi, sekali lagi, nggak semua seperti itu mas. Karena kenyataannya semua bahasa berkembang mas. Saya rasa banyak juga bahasa lain yg jadi serapan, ketika bahasa lokal tidak mendukung istilahnya. Tetapi tidak berarti Bahasa Indonesia bisa punah. Saya kebetulan English Trainer. Tetapi, ya nggak mau juga dianggap mencampuradukkan bahasa. Karena saya membantu orang lain untuk bisa berkomunikasi dengan dunia internasional. Kalau murid saya nggak bisa total in english bagaimana dong kalo pas dia belajar conversation..dipaksa? boleh laah dikit-dikit….campur

    ReplyReply
  16. xd mengatakan:

    sebenernya sih yang mempengaruhi bahasa itu public figure, tapi ada beberapa orang yang secara nggak langsung mereka sok kebule-bulean, kalo masalah EYD kayaknya nggak harus dimasukkan dalam obrolan sehari-hari kita, kita mungkin punya kosakata santai lainnya seperti lo becanda kan? atau pa kabar?

    Maksud dari felix itu sebenernya orang2 yang bener2 mencampur aduk bahasa indonesia dengan inggriss campuran yang kayaknya ngeganggu banget. Dan sebenernya dari dasar hatinya memang untuk terlihat lebih terdidik atau seacamnya.

    Kenapa bahasa indonesia kayak “beranda” terdengar aneh daripada home di sebuah website, karena pertama kali website berkembang itu menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar. Sama seperti tombol on dan off disebuah panel yang telah menjadi bahasa pengantar sabuah tombol hidup dan mati secara tak tertulis.

    Jadi intinya kenapa kita nggak ngebiasain gunain bahasa kita sendiri sebagai bahasa percakapan, ala bisa karena biasa dan kalo kuping kita sudah terbiasa mungkin sudah nggak aneh lagi. Sample kata mengunduh dah biasa dikuping setelah sekian lama orang menyebutnya.

    Jadi cobalah berbahasa indonesia di percakapan sehari-hari dan kalo memang membutuhkan bahasa inggris yah gunakan sewajarnya, jangan kebangetan dan sok kebule-bulean. Jangan sampe bahasa kita diakui oleh bangsa lain karen kita dah ninggalin bahasa kita sendiri.

    ReplyReply
  17. Adi Chandra mengatakan:

    emosi bener nihhhh… ya bagus lah kalau anak2 sekarang udah mulai bisa bahasa inggris, berarti indonesia udah mengarah ke perbaikan dan semakin seperti negara2 maju.

    kenapa ga buat artikel ttg org indo yg seringnya ngomong bahasa jowo, sunda, hokian dan lain2..

    ReplyReply
  18. Adi Chandra mengatakan:

    satu hal lagi. teman2 anda yg balik ke indo tetep menggunakan 100% bahasa indonesia adalah org yg baik dan langka. tapi tidak bisa di sama ratakan bahwa semua orang seperti itu. malah 99% orang yg sudah terbiasa tinggal di luar dan memahami 100% bahasa inggris, pasti ketika balik indo juga sering ngomong campur2.

    ReplyReply
  19. Adi Chandra mengatakan:

    @xd: Sample kata mengunduh dah biasa dikuping setelah sekian lama orang menyebutnya.

    sendirinya nyampur aduk. sample LOL.

    ReplyReply
  20. Widi mengatakan:

    Tergantung sikon sih menurut g. G termasuk org yang kadang campur aduk.
    Begitu pindah ke kantor baru, semua org disini lebih cuampur aduk. Malah kadang g gak ngerti, contohnya “FYI” kata ini sering dipake dalam email ato sms (anehnya principal g di malay ato customer asing jarang lho pake singkatan2 kaya gitu di email), apa pantes dipake dalam percakapan biasa? Apa mungkin g aja yang gak terbiasa?

    So ini semua udah jadi budaya krn situasi lingkungan, g juga bisa ikut2 an kalo seluruh lingkungan g kaya gini hehee. Kite liet aja few months later. (tuh kan campur wakaka).

    ReplyReply
  21. ChaCha mengatakan:

    baru liat page ini lagi
    hahaha
    panjang2 ya commentnya :)

    ReplyReply
  22. choichoi mengatakan:

    Hmm… khusus di Indo, gw rasa di Indo itu bahasa Indonesia sering dicampur dgn bahasa daerah. Tapi klo yg tinggal di kota besar kya Jakarta dll… Bahasa Indonesia campur bahasa Inggris, campur lo, gw + bhs prokem kaya Gokill dsb..

    Apa ada yg salah? Nope.. Emang udah budaya.. Bangsa Indonesia itu gampang banget menyerap kebudayaan asing. Itu fakta :) Apa bahasa Indonesia akan hilang? Engga tuh, semakin kaya iya :)

    Klo presenter, pemain film sering pake Bahasa Inggris campur Indonesia, itu karena mereka pengen tampil beda dari orang kebanyakan… klo sama, ya ngapain masuk TV kan ? Rating lagi – Duit lagi ;)

    Klo dlm industri properti n kuliner mah… klo ga kebarat-baratan, sering kali dianggep ga laku dan ga mewah ;)

    ReplyReply
  23. xd mengatakan:

    yang dibahas felix disini bukan masalah dalam penulisan tapi masalah dalam perkataan sehari-hari jadi ketika ngobrol :)

    @adi : berarti kalo semua penduduk indonesia ngomong dengan bahasa inggris semua negaranya dah maju. sample gw tulis karena dah biasa ngomongnya ktika gw nulis skripsi dan bukan untuk sok2an.

    @widi : FYI perasaan biasanya digunakan dalam tulisan

    ReplyReply
  24. Rio mengatakan:

    dan tadi gw lagi naek angkott… trus ada anak smp ngomong “yah, gw sih fine-fine aja sama dia..”

    Itu kan kata yang udah BANYAK banget orang pake yah.. dan gw baru nyadar kalo itu adalah indonesia yang diinggriskan!?!?! hahahaha..

    ReplyReply
  25. Putri Sarinande mengatakan:

    @Rio: hahaha, Rio lucu yah kamuh…

    felix, agaknya komentar di sini semakin meruah dan menggila dan melebar dan melapar, lapar mata pingin komentar hahaha. tidak bisa dipungkiri, gila ajah kalok berbahasa ala EYD dalam keseharian?

    nih, agar tidak melebar dari tujuan penulisan Felix, saya kasi tautan deh ke artikel seorang teman…

    bukannya apa-apa. kalau pakai bahasa daerah sendiri sih tak apa. tapi, penggunaan boso nginggris yang nyampur ama B.Indonesia ini, terutama jika untuk emndapatkan kesan keren belaka agar dianggap GAUL, dan keren, dan pinter, dan maju, dan lain sebagainya – yang disayangkan…

    http://www.tribunjabar.co.id/read/artikel/7913/bahasa-sebagai-kekuatan-dan-momentum-mei

    ReplyReply
  26. Putri Sarinande mengatakan:

    @Adi Chandra: Adi, ini yang dinamakan asimilasi kebudayaan (meski seringnya saya pelesetkan menjadi hibridisasi kebudayaan)
    yah, kalok lu bilang gitu mah Di, apa kabar tuh sekolah-sekolah internasional yang beleceran di negara Indonesia Raya ini? yang saya pahami tentang belajar bahasa adalah : sang anak akan fasih berbahasa ibu sejak usia bisa bicara hingga sekitar kelas 4 atau 5 SD. lhah, bayangkan jika bahasa ibu sendiri anak tidak paham eh ud dijejali bahasa orang. mabok kagak tuh anak…
    jadi, setelah saya pikir2 adi… bisa jadi kamu lah yang emosiong dan (sok)kalem sebab kamu mungkin pelaku yang kalok bicara sepotang-sepotong kayak laura Love? hahaha… kalem ajah yah Di ^,^

    ReplyReply
  27. Putri Sarinande mengatakan:

    @Adi Chandra: iyah juga sih, lucu. lhah dia bilang sample untuk contoh kata mengunduh. hehek…
    ini, saya melampirkan tautan ke sebuah komunitas di mana saya mencantumkan artikel Felix ini sebagai rujukan plus artikel teman tadi…
    http://ngubek.com/ngobrol/view/tentang-bahasa-indonesia

    ReplyReply
  28. Yasmin Jauza mengatakan:

    wah…..aq setuju banget tuh sama Icha Anwar,,,,, aq sependapat sama dia. @ sometime….sah2 aja menggabungkan 2 bahasa, itu kan tergantung faktor kenyamanan seseorang dlm bicara.tergantung penggunaannya & tempat juga seh. campur2 itu khan enak, macam Gado2 atw es campur, semakin di campur semakin Mantab…ehehhehe

    ReplyReply
  29. Gina Yumna mengatakan:

    lah..dimana jiwa nasionalismenya tuh orang yang suka nyampur2in bahasa indonesia ya???padahal aku baca di salah satu artikel kalo bahasa indonesia tuh digunakan di salah satu sekolah di jepang (kalo ngga salah jepang deh..mandan lupa hahaha…)
    malah aku sering pake bahasa daerah juga kalo di kantor, walo banyak yang roaming hahaha…

    ReplyReply
  30. leksa mengatakan:

    Saya prihatin, sekaligus juga berusaha mengerti posisi temen2 yang demikian.

    Saya sendiri juga kadang masih nyampur2 ngomong bahasa jawa – bahasa aceh – bahasa inggris, dalam percakapan Indonesia. Tp tidak ada niat untuk “asal kedengaran gaul”, atawa keren. Itu cuma mengalir saja, mengikuti lingkungan dan posisi saya dalam pembicaraan.

    Dan lagi, saya sangat menghormati, bahkan mencintai bahasa Indonesia. Minimal, untuk setiap temen/klien yang minta usulan nama web yang berbahasa Indonesia, saya sarankan menggunakan domain, pranala dan fungsi dalam bahasa Indonesia. I know,..Its just my one cent for Bahasa. ;)

    ReplyReply
  31. Fickry mengatakan:

    hoho,,, gw ngomong juga nyampur nyampur bos..
    tapi sorry to say,,, klo ngomong nyampur2 itu cuma hanya karena ingin dibilang gaul dan sok internasional, itu baru gw gak sepakat. jadi artikel lu sangat gak mendasar dan bias. :)

    cheers.

    ReplyReply

Berkomentar

Advertise Here
Advertise Here

Tentang Kami

Twentea adalah sebuah majalah online untuk anda yang berumur dua puluh-an. (baca selanjutnya).


Twentea membahas tentang tips gaya hidup yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk membangun pikiran dan tubuh yang lebih sehat.
Seperti hal-nya tea dengan segala sisi positif-nya, kami juga menyarankan anda untuk meminum Twentea setiap saat :)


Twentea @ Twitter

  • Komentar
  • Populer
  • Utama
  • Tag
  • Langganan