Tren yang sedang berlangsung pada dunia pengguna BlackBerry adalah penggunaan istilah autis bagi para pemakainya. Mungkin memang benar, pengguna BB yang sibuk berchatting di BlackBerry Messenger ataupun Yahoo Messenger dan lain-lain, pastilah terlihat amat kontras di keramaian.
Kontras, karena pastinya kepala dan mata pengguna hanya asyik tertuju pada BB-nya dan sibuk ketik-ketik, terkesan tidak memperdulikan keadaan sosial di sekitarnya dan seperti ‘memiliki dunia sendiri’. Ditambah lagi dengan tiba-tiba senyam-senyum sendiri, ketawa-ketawa sendiri dan lain-lain.
Namun mengapa sampai ada istilah autis untuk sekedar lucu-lucuan di komunitas BlackBerry? Apakah mereka yang menciptakan atau yang turut menyemarakan tren tersebut tidak tahu sedihnya perasaan seorang ibu/ayah yang memiliki anak penderita autis?
Pikir dan revisi kembali penggunaan istilah tersebut.
Artikel Terkait
- Apakah Aku Harus Beli BlackBerry Juga?
- [Sruput 20-an] Si Egois dan Rakus
- [Sruput 20-an] Halo? Ini siapa yah?
- [Sruput 20-an] Pose Foto yang Diatur dan Dibuat-buat
- [Sruput 20-an] Relasi Atasan-bawahan dengan Kawan



Halaman Facebook
Ikuti kami di Twitter
May 27th, 2009 at 9:05 pm
betul, sebaiknya istilah autis jangan digunakan lagi secara terlalu bebas. This is getting out of hand
May 27th, 2009 at 10:34 pm
Wow!
Gw bukan pengguna BB, tapi gw dan lingkungan gw cukup sering menggunakan istilah itu. Dan setelah baca ini, gw baru nyadar, bener juga ya.. Agak kelewatan juga, menggunakan suatu kekurangan/kecacatan menjadi bentuk becandaan, sindiran ato hinaan.
Eh, trus tiba2 ada pemikiran yang muncul. Kan banyak juga noh yang suka bilang, “Elo jalan liat2 donk, buta ya!?”. Itu juga berarti sama donk?
June 10th, 2009 at 6:57 pm
Setuju. Penggunaan istilah ‘autis’ pada pengguna BB harus diganti dan dihilangkan. Coba bayangkan perasaan para orang tua, teman atau bahkan saudara yang memiliki anak/teman/kerabat yang autis ketika mendengar istilah tersebut. Let’s put yourself in the other’s shoes.
June 14th, 2009 at 10:24 am
Felix, sejujurnya istilah autis itu sendiri sudah lama dipakai sebelum wabah Blek Beri ini merajalela. dan memang, autis sendiri adalah sebuah gangguan (disorder) pada sistem tubuh.
namun, sekedar informasi, saya sendiri termasuk pengguna kata autis dalam konteks penyakit yang bersifat psikis. yah, sama dengan definisi autis yang terjadi pada seorang anak. di SINDO, rubrik GAUL – pertama kali saya menulis (sialnya masih pakai nama KTP, 2 tahun silam…) “Menjadi Autis”
intisarinya, saya menggunakan kata itu sebagai sebuah ajakan pribadi untuk berkontemplasi dan berkencan dengan diri sendiri agar tidak terbawa hiruk pikuk kerusuhan dunia.
sedangkan di suratkabar Rakyat Merdeka, ada pula artikel yang menuliskan tentang kecenderungan autis di kalangan para punggawa rakyat (baca : petinggi negara alias pejabat)
intinya memang sama : asik dengan dunianya sendiri.
yang membedakan, tulisan saya ketika itu memang bagian dari (semacam)terapi pribadi saya. sedangkan artikel si surat kabar adalah upaya kritik halus. nah, apa dan bagaimana penggunaan kata autis ini yang dapat menyakitkan orangtua yang memiliki anak penderita autis? yaitu ketika autis sang anak dianggap CACAT MENTAL sebab kekurangan bukanlah cacat, hanya masalah tidak sama dengan kebanyakan orang saja.
September 16th, 2009 at 12:47 pm
Apa bedanya ungkapan “autis” ini dengan penggunaan ungkapan (maaf) “gembrot, bantet, gundul, pitak, ompong, bongkok, gila, dll” dalam obrolan informal sehari2 ?. Penggunaan istilah kondisi fisik tertentu sebagai celaan dalam komunikasi menurut saya sah2 saja selama masih dalam kerangka informal.
Orang tua anak2 penderita autisme seharusnya tidak perlu terlalu sakit hati dengan hal2 remeh seperti ini, seperti misalkan orang2 tuna grahita yg tidak pernah menuntut penggunaan istilah “moron dan imbecile” untuk tidak digunakan.
September 16th, 2009 at 2:47 pm
@sibadu: pinter juga lu. gwa demen ama kalimah lu
“Orang tua anak2 penderita autisme seharusnya tidak perlu terlalu sakit hati dengan hal2 remeh seperti ini, seperti misalkan orang2 tuna grahita yg tidak pernah menuntut penggunaan istilah “moron dan imbecile” untuk tidak digunakan.”