[Sruput 20-an] BlackBerry dan Pengunaan Istilah Autisme

sruput-20anTren yang sedang berlangsung pada dunia pengguna BlackBerry adalah penggunaan istilah autis bagi para pemakainya. Mungkin memang benar, pengguna BB yang sibuk berchatting di BlackBerry Messenger ataupun Yahoo Messenger dan lain-lain, pastilah terlihat amat kontras di keramaian.

Kontras, karena pastinya kepala dan mata pengguna hanya asyik tertuju pada BB-nya dan sibuk ketik-ketik, terkesan tidak memperdulikan keadaan sosial di sekitarnya dan seperti ‘memiliki dunia sendiri’. Ditambah lagi dengan tiba-tiba senyam-senyum sendiri, ketawa-ketawa sendiri dan lain-lain.

Namun mengapa sampai ada istilah autis untuk sekedar lucu-lucuan di komunitas BlackBerry? Apakah mereka yang menciptakan atau yang turut menyemarakan tren tersebut tidak tahu sedihnya perasaan seorang ibu/ayah yang memiliki anak penderita autis?

Pikir dan revisi kembali penggunaan istilah tersebut.

Artikel Terkait


Tentang Penulis

Felix Widjaja. Felix adalah salah satu dari penggagas Twentea dan sehari-hari sibuk menjalankan agensi web desain Stucel. Selain bertanggung jawab untuk menjaga penampilan Twentea agar selalu yahud, ia juga terkadang menulis artikel (salah satunya adalah yang barusan anda baca diatas). Oiya, Felix juga memiliki blog bersama istrinya di SodaSoup.

Buat kios gratis dan langsung jualan online di QiosQu

6 Komentar Untuk Artikel Ini

  1. Aria Rajasa mengatakan:

    betul, sebaiknya istilah autis jangan digunakan lagi secara terlalu bebas. This is getting out of hand

    ReplyReply
  2. Rio mengatakan:

    Wow!
    Gw bukan pengguna BB, tapi gw dan lingkungan gw cukup sering menggunakan istilah itu. Dan setelah baca ini, gw baru nyadar, bener juga ya.. Agak kelewatan juga, menggunakan suatu kekurangan/kecacatan menjadi bentuk becandaan, sindiran ato hinaan.

    Eh, trus tiba2 ada pemikiran yang muncul. Kan banyak juga noh yang suka bilang, “Elo jalan liat2 donk, buta ya!?”. Itu juga berarti sama donk?

    ReplyReply
  3. Melissa mengatakan:

    Setuju. Penggunaan istilah ‘autis’ pada pengguna BB harus diganti dan dihilangkan. Coba bayangkan perasaan para orang tua, teman atau bahkan saudara yang memiliki anak/teman/kerabat yang autis ketika mendengar istilah tersebut. Let’s put yourself in the other’s shoes.

    ReplyReply
  4. Putri Sarinande mengatakan:

    Felix, sejujurnya istilah autis itu sendiri sudah lama dipakai sebelum wabah Blek Beri ini merajalela. dan memang, autis sendiri adalah sebuah gangguan (disorder) pada sistem tubuh.

    namun, sekedar informasi, saya sendiri termasuk pengguna kata autis dalam konteks penyakit yang bersifat psikis. yah, sama dengan definisi autis yang terjadi pada seorang anak. di SINDO, rubrik GAUL – pertama kali saya menulis (sialnya masih pakai nama KTP, 2 tahun silam…) “Menjadi Autis”
    intisarinya, saya menggunakan kata itu sebagai sebuah ajakan pribadi untuk berkontemplasi dan berkencan dengan diri sendiri agar tidak terbawa hiruk pikuk kerusuhan dunia.

    sedangkan di suratkabar Rakyat Merdeka, ada pula artikel yang menuliskan tentang kecenderungan autis di kalangan para punggawa rakyat (baca : petinggi negara alias pejabat)

    intinya memang sama : asik dengan dunianya sendiri.

    yang membedakan, tulisan saya ketika itu memang bagian dari (semacam)terapi pribadi saya. sedangkan artikel si surat kabar adalah upaya kritik halus. nah, apa dan bagaimana penggunaan kata autis ini yang dapat menyakitkan orangtua yang memiliki anak penderita autis? yaitu ketika autis sang anak dianggap CACAT MENTAL sebab kekurangan bukanlah cacat, hanya masalah tidak sama dengan kebanyakan orang saja.

    ReplyReply
  5. sibadu mengatakan:

    Apa bedanya ungkapan “autis” ini dengan penggunaan ungkapan (maaf) “gembrot, bantet, gundul, pitak, ompong, bongkok, gila, dll” dalam obrolan informal sehari2 ?. Penggunaan istilah kondisi fisik tertentu sebagai celaan dalam komunikasi menurut saya sah2 saja selama masih dalam kerangka informal.

    Orang tua anak2 penderita autisme seharusnya tidak perlu terlalu sakit hati dengan hal2 remeh seperti ini, seperti misalkan orang2 tuna grahita yg tidak pernah menuntut penggunaan istilah “moron dan imbecile” untuk tidak digunakan.

    ReplyReply
  6. Putri Sarinande mengatakan:

    @sibadu: pinter juga lu. gwa demen ama kalimah lu
    “Orang tua anak2 penderita autisme seharusnya tidak perlu terlalu sakit hati dengan hal2 remeh seperti ini, seperti misalkan orang2 tuna grahita yg tidak pernah menuntut penggunaan istilah “moron dan imbecile” untuk tidak digunakan.”

    ReplyReply

Berkomentar

Advertise Here
Advertise Here

Tentang Kami

Twentea adalah sebuah majalah online untuk anda yang berumur dua puluh-an. (baca selanjutnya).


Twentea membahas tentang tips gaya hidup yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk membangun pikiran dan tubuh yang lebih sehat.
Seperti hal-nya tea dengan segala sisi positif-nya, kami juga menyarankan anda untuk meminum Twentea setiap saat :)


Twentea @ Twitter

  • Komentar
  • Populer
  • Utama
  • Tag
  • Langganan