Categorized | Keseharian

[Sruput 20-an] Ribetnya Percakapan Bahasa Indonesia dan Gaya Tarzan

sruput-20anPernah gak terpikir kalau Bahasa Indonesia itu merupakan bahasa yang sungguh ribet digunakan dalam percakapan antara 2 orang yang saling menghormati, atau yang berbeda struktur hirarki kepemimpinan/status sosial? Misalnya begini, percakapan antara karyawan (Ucup) dan bos-nya (Andi),

Ucup: Pak Andi, tadi Bapak memanggil saya yah Pak?

Andi: Betul Cup, tadi saya dengar dari atasan kamu, kamu menolak tugas luar kota yang telah saya putuskan yah?

Ucup: Betul Pak Andi, soalnya istri saya sedang hamil tua Pak. Tapi jujur saja, saya tidak tahu bila tugas itu ditugasi langsung dari Pak Andi.

Andi: Maksudmu apa Cup!!??? Lancang sekali kamu menzolimi keputusan saya? Mau mu apa sih? Saya tidak perduli istrimu yang mau hamil tua kek, muda kek!

Ucup: Maaf Pak Andi, kalau saya telah membuat Pak Andi jadi marah dan gusar begini! Sumpah disamber geledek, saya tidak tahu sebelumnya bila keputusan ini datangnya langsung dari meja Pak Andi. Kalau saya tahu keputusan itu datang dari Pak Andi langsung, pasti saya tidak memperdulikan istri saya lagi dan langsung menyanggupi!

Andi: Koq meja saya dibawa2 segala sih?

Lalu bandingkan cuplikan percakapan Tarzan dan Jane berikut:

Tarzan: Jane, apakah Jane mau menemani Tarzan mencari pisang-pisangannya Cheeta?

Jane: Wow! Mau dong! Tentu Jane mau menemani Tarzan mencari mainan itu.

Tarzan: Yuk kita tanya si Cheeta kapan terakhir Cheeta melihatnya.

Dari 2 percakapan di atas, terlihat bahwa Ucup tidak pernah menggunakan kata “kamu” ataupun “anda” kepada bos-nya. Mungkin kebudayaan Indonesia-lah yang telah membuat Ucup segan, padahal “kamu”/”anda” adalah EYD sah dan saya yakin terdapat di Kamus Besar Bahasa Indonesia untuk dapat digunakan sebagai penunjuk orang pertama.

Tapi, mengapa orang Indonesia lebih memilih jurusan ribet? Mengapa kita malah menyadur gaya Tarzan dan pacarnya Jane? Mungkin hanya Cheeta yang tahu jawabannya.

Artikel Terkait


Tentang Penulis

Felix Widjaja. Felix adalah salah satu dari penggagas Twentea dan sehari-hari sibuk menjalankan agensi web desain Stucel. Selain bertanggung jawab untuk menjaga penampilan Twentea agar selalu yahud, ia juga terkadang menulis artikel (salah satunya adalah yang barusan anda baca diatas). Oiya, Felix juga memiliki blog bersama istrinya di SodaSoup.

Buat kios gratis dan langsung jualan online di QiosQu

8 Komentar Untuk Artikel Ini

  1. Fikri Rasyid @ Bloggingly mengatakan:

    Yap, bahasa indonesia ini kalau dalam pandangan saya lentur sekali. Pakemnya kurang “strict”. sehingga di mulurkan kesana-kesini. Jadi kita juga bingung yang standar itu yang seperti apa :P

    ReplyReply
  2. Putri Sarinande mengatakan:

    sebagai yang berkutat dengan bahasa Inggris karena kutukan keluarga, maka saya bisa turut membuka wawasan. saya pikir dan saya rasa (I think) ini berkorelasi dengan apa yang dinamakan adat ketimuran. di mana, ketika kalian berbicara pada yang lebih atas secara usia, posisi, dan lain-lain maka adalah sebuah kesepakatan tak tertulis bahwa kalian musti bersikap sopan. maka, kata you dan I dalam bahasa Indonesia bisa berarti banyak : you = beliau, anda, kamu, elu, dll…I = saya, aku, dan pengatasnamaan.

    ada lagi opsi lain. menyebutkan nama sendiri di depan lawan bicara dengan asumsi untuk menghormati yang dituakan yang bisa dengan kesadaran atau tanpa sadar dilakukan. namun, saya kadang merasa sok imut sendiri jika bersikap begitu.

    dan maka dari itu saya percaya Bebas Umur (untuk mencegah penghormatan membabi buta atas nama senioritas)

    ReplyReply
  3. sassy mengatakan:

    @putri: setuju banget put,bahasa indonesia terlalu banyak aturan yg ga tertulis tapi disahkan oleh seluruh warga.

    mis:
    ngomong sama bos beda (saya-bpk\ibu)
    sama temen kantor beda (saya-mba\mas\pak\bu)
    temen main (gw-lu / aku-kamu)
    calon mertua (pake nama-tante\ibu/mimih atau apalah)
    bahkan ama segala tukang (kadang manggil bapak, mas, mamang, pak haji, dll tergantung kondisi lawan bicara)…

    hhfffff…
    toto kromo (javanese) dan sopan santun yang kadang nyerempet sama senioritas!!

    ReplyReply
  4. Pratiwi Apriani mengatakan:

    hmmm
    setuju banget tuh..
    warga indonesia sangat menjunjung tinggi ma yang namanya “sopan santun”
    soal bahasa n bertutur kata merupakan tolak ukur apakah orang itu punya sopan santun ato ndak…
    klo yang diajak ngomong juga nyambung ma masalah sopan santun ini seh ya gag jadi masalah, lha klo ndak nyambung, ya kek gitu itu jadinya..
    banyak salah pahamnya…
    hehehehhehe

    ReplyReply
  5. Ari Kurniawan mengatakan:

    Iya Sih Kalau Di Pikir-Pikir Kalo Bahasa Indonesia Rada-Rada Gak Jelas,dan Satu Kata Hanya Mengandung Satu Kata

    ReplyReply
  6. Asep sujana mengatakan:

    Ya lbih baik ribet klo itu sopan,cz bhsa mencrminkn kpribadian.Org2 jg akn snang dgn qt kl qt pandai memilih2 bhsa yg akn dgunakan pda org2 yg brbeda

    ReplyReply
  7. setia mengatakan:

    wkwkwkwk …. gw nangkep maksudnya, nice post bro …..

    saya khan terus bermain ke blog anda, mohon petunjuk menjadi seorang manusia yg baik.^^

    wassalam

    ReplyReply
  8. setia mengatakan:

    andinyah yang salah etto mah, ga tau ungkapan sopan … ^^

    artikelnyanyah isnpiartif

    setia – seorang yang membutuhkan petunjuk cara mengungkapkan tulisan yang baik

    ReplyReply

Berkomentar

Advertise Here
Advertise Here

Tentang Kami

Twentea adalah sebuah majalah online untuk anda yang berumur dua puluh-an. (baca selanjutnya).


Twentea membahas tentang tips gaya hidup yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk membangun pikiran dan tubuh yang lebih sehat.
Seperti hal-nya tea dengan segala sisi positif-nya, kami juga menyarankan anda untuk meminum Twentea setiap saat :)


Twentea @ Twitter

  • Komentar
  • Populer
  • Utama
  • Tag
  • Langganan