Categorized | Kantor & Karir

Filosofi Kacamata Kuda Dalam Berkarya

Manusia adalah makhluk sosial.  Sudah pasti, akan ada masukan-masukan dari pelbagai bentuk di sekitar kita. Semacam umpan balik alias feed-back.

Namun kadang kala, tidak semua umpan balik itu bermanfaat buat kita.  Adakalanya suara-suara sumbang menghambat aktivitas kita. Tidak akan terlalu menjadi hambatan jika umpan balik kurang bermanfaat itu berasal dari seseorang yang tidak terlalu terlibat dalam hidup kita. Bagaimana jika sebaliknya?

Sebagai contoh, adalah film Azumi dari Jepang. Dalam film, dikatakan tokoh Azumi adalah Perempuan Pembunuh Bayaran yang telah dididik sejak kecil bersama sembilan orang lainya. Tumbuh bersama tentu sedikit banyak menjadikan Azumi dan sembilan orang lainnya seperti keluarga.

Semakin mereka besar, mereka dituntut untuk menjadi Pembunuh Bayaran Profesional. Rupanya, bos-besar mereka memiliki ide cerdas luar binasa dan berani. Kesepuluh orang termasuk Azumi dijadikan berpasang-pasangan. Maka, didapatlah lima pasang anggota keluarga. Mereka diminta untuk saling membunuh. Dengan samurai yang biasa mereka pakai bekerja mencari nafkah sebagai Pembunuh Bayaran.

Dan, si Azumi ini sungguh memesona saya ketika itu. Dia dengan tanpa ragu sedetik pun, menebas perut saudaranya sendiri dengan samurainya. Dan tanpa ekspresi pula ia mengayunkan samurainya setelah melihat darah memancar dari perut sang saudara.

feedback

Butuh Feedback?

Apa pesan moral yang bisa diambil? Bunuh semua yang mengganggu? Tentu tidaklah sesekstrim itu, karena saya dan kamu para pembaca Twentea tidak sedang menjadi atau belajar menjadi Pembunuh Bayaran.

Gunakan filosofi Kacamata Kuda saja. Tutup pula telinga terhadap komentar-komentar sumbang yang meruntuhkan kepercayaan diri kita dalam berkarya.

Walaupun mungkin, umpan balik dari orang-orang yang cukup banyak terlibat dalam kehidupan kita semisal anggota keluarga ditujukan sebagai niat baik. Agar kita mempertimbangkan apa yang kita lakukan. Kenyataannya, dengan merespon umpan balik kurang bermanfaat seperti itu – jika tidak dapat dikatakan tidak berguna, demi rasa kemanusiaan maka saya tak berkata demikian – justru kemunduran yang didapat.

Jika sudah begitu, apa mau dikata?

Kegagalan bisa terjadi karena memang rezeki kita untuk gagal. Namun kegagalan terburuk yang dapat terjadi adalah kegagalan karena terlalu mempedulikan umpan balik untuk menjadi gagal. Karena bagaimanapun juga, masih lebih kesal gagal karena terlalu ngikutin omongan orang dibanding gagal karena murni salah pribadi dalam mengambil keputusan, kan?

Foto oleh: I am Jacques Strappe

Pastikan anda tidak ketinggalan suguhan teh Twentea! Anda bisa berlangganan melalui RSS feed, email. Anda juga bisa bergabung dengan grup Facebook.

Artikel Terkait


Tentang Penulis

Putri Sarinande. pemilik intelejensia selevel amuba yg suka nulis apapun demi merapikan isi otaknyah yang amburadul...

Buat kios gratis dan langsung jualan online di QiosQu

7 Komentar Untuk Artikel Ini

  1. havban mengatakan:

    Maaf mba penulis..

    “Dan, si Azumi ini sungguh memesona saya ketika itu. Dia dengan tanpa ragu sedetik pun, menebas perut saudaranya sendiri dengan samurainya. Dan tanpa ekspresi pula ia mengayunkan samurainya setelah melihat darah memancar dari perut sang saudara.”

    Kok saya liat di film-nya lain ya? dia agak ragu2 ngelawan.. terus.. si cowo akhirnya nyerang dia duluan.. dan.. tanpa sengaja.. *sekedar membela diri* cowo-nya mati kena tusukannya.. a sad movie.. T_T

    Tapi.. akhirnya dia hidup, dengan semangat orang2 yg telah berkorban tuk menjadikan mereka yg terbaik. 5 orang itu adalah yg terbaik dari 10 orang lainnya.. dan membunuh orang2 yg pernah dikenal adalah sebuah hal yg gak bisa dipungkiri sebagai pembunuh bayaran.. :)

    ReplyReply
  2. Putri Sarinande mengatakan:

    tidak apa. saya percaya dengan kalimat : manusia hanya ingin mendengar dan melihat apa yang ingin dilihatnya. jadi, bisa jadi ketika itu saya mengabaikan adegan si Azumi Cantik ini sedang ragu dan memusatkan ingatan saya pada keberhasilannya menjadi seorang profesional. begitu kiranya teman. terimakasih atas pendapatnya…

    ReplyReply
  3. raiderhost mengatakan:

    he .. he.. belajar dari artikel ini ..

    *jdi pengen lhat azumm yg cantik n kejam itu ach (apa the last samurai versi japan tu yach)

    ReplyReply
  4. Richard Fang mengatakan:

    yang pasti kita harus bisa mem-filter mana yg menghambat dan mana yang menyakitkan tapi benar..

    kata orang sih, kalau makin banyak yg menentang itu artinya ide bagus, tapi terkadang juga memang itu ide jelek banget, jadi harus pintar-pintar berkaca diri juga :)

    ReplyReply
  5. Putri Sarinande mengatakan:

    @Richard Fang: aha, itu lebih cerdas lagi. keyakinan diri membabi buta pun bisa membunuhmu, bukan? bukaaan… hehehe…

    ReplyReply
  6. imamsbd mengatakan:

    hehehe filosofi nich keren ah cuman agak lebay nich, “tanpa ekspresi” ahak hak

    ReplyReply
  7. Putri Sarinande mengatakan:

    @imamsbd: wah, kamu. sepertinya saya kenal kamu… lebai? tak apeu. yang penting meriah hidup ini…

    ReplyReply

Berkomentar

Advertise Here
Advertise Here

Tentang Kami

Twentea adalah sebuah majalah online untuk anda yang berumur dua puluh-an. (baca selanjutnya).


Twentea membahas tentang tips gaya hidup yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk membangun pikiran dan tubuh yang lebih sehat.
Seperti hal-nya tea dengan segala sisi positif-nya, kami juga menyarankan anda untuk meminum Twentea setiap saat :)


Twentea @ Twitter

  • Komentar
  • Populer
  • Utama
  • Tag
  • Langganan