Ketika artikel ini ditulis, saya sedang merasa cerah ceria sehabis duduk-duduk dan makan bersama di Gardu, sebuah sanggar seni di Kota Kelahiran saya di Cirebon.
Tidak semenyenangkan yang akan para pembaca duga, tentu jika pembaca hanya berpikir dan merasa bahwa tempat tersebut nyaman versi Cafe, minimal Cafe tenda lah begitu. Saya dan beberapa kawan duduk-duduk di karpet butut yang cukup kumuh, di bawah naungan pohon. Malam hari, pula. Maka banyak nyamuk berseliweran di sekitar kami. Makan mie instan plus telur, di atas sebuah meja kayu yang tak kalah usang. Dan ada tambahan pilihan lauk makan malam berupa serabi dan tempe goreng dingin, serta air dari kendi.
Tetapi, karena saya sungguh ingin berada di Gardu, menikmati semua hal yang ingin saya lakukan atau kenal atau semacam pelajari, maka saya bisa membantu memvisualisasikan kenyamanan ala saya tersebut. Kenyamanan ala seniman, lebih tepatnya. Kenyamanan yang identik dengan anti kemapanan.
Ketika itu, cuaca cerah. Awan-awan merekah indah di langit. Menjelang malam, saat senja menjelang, bulan tersapu awan perlahan menyemburat memantulkan sinar keperakan. Mulailah ritual kami yang nampak kurang kerjaan, memandang langit yang mulai menggelap sembari bernyanyi-nyanyi sayup.
Lantas kami merasa lapar, dan mulailah jamuan makan malam sederhana itu. Setelah kepedasan memakan mie instan dan saos pedasnya yang over dosis, kami mereguk air dari kendi tanah liat.
Pepatah berkata, rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri. Yang saya lakukan ketika itu di Gardu, nampak seperti seorang yang sedang kembali ke alam. Dengan mengabaikan kenyataan banyak nyamuk dan tempe goreng dingin dimakan dengan kuah mie instan. Terdengar menyenangkan : kembali ke alam – back to nature.
Padahal, konsekuensi logis Makan Malam di Gardu adalah kaki-kaki menggatal akibat Makan Malam Diiringi Orkestra “nyamuk-nyamuk kebun nan ganas”.
Berbanding terbalik dengan kenyataan saya menikmati kehidupan anti-kemapanan ala seniman meski hanya sesekali, terkadang saya sejujurnya iri. Pada teman-teman saya yang sedang berada di negeri-negeri entah Eropa sana. Menghabiskan waktu dengan menjadi mahasiswa S2 dengan bantuan beasiswa. Namun, saya tak ingin terlalu memandang hijau rumput tetangga. Meski rumput saya tak sehijau yang terlihat oleh bahkan mata saya sendiri, akan selalu ada helai yang sama. Sama-sama rumput!
Ini hanyalah masalah sudut pandang. Di mana pun seseorang berada, seharusnya memberikan keceriaan tersendiri. Tidak masalah keceriaan itu seperti apa. Sebab, hanya jiwa dan ragamu yang mampu menjawabnya.
Maka dari itu, kepada para Twentea’ers yang sedang berkeinginan untuk berada di suatu tempat entah di mana dan merasa terbelenggu karena tidak atau belum terwujudkan, rasakanlah jiwamu dan berilah waktu kepada ragamu. Biarkan rumputmu menghijau karena kamu telah mengoreksi cara matamu melihatnya.
Foto oleh: Love Your Roots
Pastikan anda tidak ketinggalan suguhan teh Twentea! Anda bisa berlangganan melalui RSS feed, email. Anda juga bisa bergabung dengan grup Facebook.
Artikel Terkait
- Lakukan Hal Terbaikmu, Meski Kau Hanya Rumput…
- Jangan Menilai Darimana ‘Asal’ Seseorang
- Cukup Minum – Sehat dengan Cara Murah
- Memaafkan Diri Sendiri
- Suatu Ketika dalam Hidupmu








Halaman Facebook
Ikuti kami di Twitter
July 19th, 2009 at 8:50 am
Setujuh jeung put! Diatas langit akan selalu ada langit. Sekali-kali coba lihat ke bawah kita, supaya bisa lebih bersyukur apa yang kita punya dan tidak mereka punya.
July 20th, 2009 at 9:52 am
@Lany: kebanyakan mendongak ke atas kadang bikin sakit leher. hehek..