Categorized | Keseharian

Jangan Menilai Darimana ‘Asal’ Seseorang

Hebat ya si Diana, udah cantik, ngomongnya sopan, lulusan S2, dan denger-denger keluarganya kaya loh! Kalimat ‘bertema’ seperti itu sudah sangat normal terdengar diperbincangkan di mana-mana, seseorang selalu dinilai dari penampilan, kekayaan keluarganya, pendidikan, dsb.

215px-PEPOSTERsmBeberapa saat yang lalu, saya menonton Public Enemies. Film yang diinspirasikan oleh kejadian sebenarnya itu bercerita tentang kehidupan perampok terkenal di tahun 1930-an yaitu John Dillinger yang diperankan oleh Johnny Deep. Dan pada adegan ketika John Dillinger jatuh cinta dengan seorang wanita yang bernama Billie Frechette, dia mendekatinya dan mengajaknya untuk makan malam di restoran yang cukup mewah.

Sesampainya disana, beberapa pasang mata tampak menatap mereka dengan tatapan yang aneh dan satir, dan Billie pun menjadi tidak nyaman sendiri. Ia merasa pengunjung lain memperhatikan gaun murah yang dikenakannya (hanya seharga $3). John pun menanggapinya dengan berkata:

Orang memang hanya melihat kita dari mana kita berasal. Bukan dari tujuan apa yang akan kita capai

Sekelumit perkataan si John itu menyadarkan saya tentang realita di kehidupan. Tentang apa yang selalu dibicarakan dan dinilai tentang seseorang. Dan setelah dipikir-pikir, maknanya cukup kuat membekas di pikiran saya untuk beberapa saat.

Pikiran saya melayang ke perilaku kebanyakan staff di butik-butik ternama yang hanya memandang sebelah mata kepada pelanggan yang datang dengan tampilan cukup kumal tanpa ada satu item branded pun yang menempel di badannya. Atau sebuah kantor yang memberikan gaji lebih rendah kepada salah seorang karyawannya hanya karena dia berasal dari kota kecil dengan pendidikan di perkuliahan ‘entah berantah’. Ada juga seorang dokter bule spesialis kandungan, yang amat terkenal walaupun dia memasang tarif dua kali lipat dibandingkan dokter lokal.

Penampilan, profil keluarganya, kota asal, dan latar belakang, bahkan suku dan ras seringkali dijadikan patokan bahwa si A pasti lebih dari si B. Pandangan itu tidak akan berubah sampai si B yang tiba-tiba muncul setelah sejak lama menghilang dari peredaran teman-teman, dan menjadi seseorang yang sukses dengan usaha dan kerja keras sendiri.

Bagi twentea’ers yang sedang merasa tidak terlalu dipandang dan sering dilecehkan hanya karena beberapa hal itu, bersabarlah dan tunggulah hingga suatu saat nanti mereka akan tercengang karena mereka jelas-jelas salah menilai dirimu.

Pastikan anda tidak ketinggalan suguhan teh Twentea! Anda bisa berlangganan melalui RSS feedemail. Anda juga bisa bergabung dengan grup Facebook.

Artikel Terkait


Tentang Penulis

Lany. Tertarik untuk membagi informasi dan pandangannya mengenai gaya hidup semasa umur dua puluh-an. Sehari-hari menghabiskan waktunya menangani pekerjaan rumah tangga sekaligus bekerja sama dengan suaminya membangun agensi web desain yang bernama Stucel.

Buat kios gratis dan langsung jualan online di QiosQu

17 Komentar Untuk Artikel Ini

  1. Kuswanto Kus mengatakan:

    Jadi inget sales kartu kredit. Kalo gw pake kemeja, jaket bersih suka di tawarin. Tapi kalo lagi pake kaos kumel, rambut lagi pada jucung2, celana pendek.. pasti gak di tawarin.

    ReplyReply
  2. Hendrik mengatakan:

    masalahnya gan “tujuan yang akan kita capai” ini ngak bisa dilihat org, jadi apa yang dilihat org pertama (1st impression) yah tampilan itu loh.

    jadi gimana gan?

    ReplyReply
  3. raiderhost mengatakan:

    enak juga sich klo di kota [sdikit orang melirik status social] .. lha klo di kampung mach yg dibandang pertama kali kan emang gituan :D

    mahasiswa, tampan, cakep, kaya, motor roda 2, sawah dan ladang :)) bakalan mudah gaet cewek :D

    *buktiken .. kalau kita sukses mudah dapet cewek :))

    peace cewek yg suka lhat dari depannya saja :D

    ReplyReply
  4. Fikri Rasyid @ Bloggingly mengatakan:

    @Hendrik: i like your point. Orang menilai dari apa yang bisa mereka lihat karena mereka tidak bisa melihat apa yang menjadi tujuan kita :)

    ReplyReply
  5. Felix Widjaja mengatakan:

    Artikel ini mengingatkan kita agar jangan sepenuhnya terpukau hanya pada penampilan atau profil seseorang. Walaupun kita tentu saja tidak bisa 100% mengesampingkan hal yang tampak tersebut, tapi setidaknya kita harus lebih bijaksana dalam menilai seseorang. Begitu teman-teman!

    ReplyReply
  6. Hendrik mengatakan:

    jadi untuk bisa mengerti tujuannya menurut gw kudu murah senyum ke semua orang, dan tidak selalu memandang curiga org yang ngajak ngobrol, selama ngak nyeleneh obrolannya. Mungkin dengan ngobrol kan jadi bisa ketauan tuw tujuan

    ReplyReply
  7. Lany mengatakan:

    @Hendrik & @Fikri Rasyid @ Bloggingly: Baik pemirsa, saya luruskan sedikit bahwa makna yang saya tangkap adalah ada baiknya kita lebih menghargai orang lain walaupun dia miskin, kaya, keren, atau sesekali tampak culun :)

    ReplyReply
  8. Richard Fang mengatakan:

    ah udah biasa itu, klo gue lebih suka ga di liat.. tau2 jadi aja.. kebanyakan orang yang di ‘liat’ kok kayaknya ending2 nya begitu2 aja ya? menurut pengalaman pribadi sih hehehe

    dari sma udah mikir, i’m proud to look like a loser atau sebangsanya karena ga ada orang yg tau apa yg gue lakuin dan rencanain..

    ReplyReply
  9. xd mengatakan:

    Kadang bebet bobot dan asal itu menjadi penilaian loh buat sebagian orang, kan boleh kita menilai dari sisi lain. Jujur aja kalo pertama kali liat kita pasti akan langsung ke penampilan fisiknya. Dan kalo dah kenal deket atau mengetahui lebih dalam kita baru gunain penilaian lainnya.

    Gw inget banget omongan orang-orang yang kayak MLM atau orang2 terkenal lainnya. Penampilan no 1 jadi….

    ReplyReply
  10. Felix Widjaja mengatakan:

    gw setuju banget cat! kebetulan gw juga ada beberapa temen yg dari dulu keknya uda paling serba anyar terus, baik mode, tongkrongan, dugeman dsb.
    tapi sepertinya gitu2 ajaa, mala gw yg dulunya berasa tu orang bakalan sukses, lama kelamaan berasa kasian ama dia.

    hehe manteb loser yg satu ini :p

    ReplyReply
  11. xd mengatakan:

    @felix itu sih pinter2 orangnya aja sih, gw yakin kalo dia bisa gunain kesempatan yang ada bakalan bisa lebih sukses. Mungkin teori penulis kadang bener dan kadang salah. Orang lo datang ke kantor-kantor gede dengan pakaian lusuh pasti langsung kena alert oleh security yang ada disana. Jadi tetap boleh dong menilai darimana orang berasal :D

    ReplyReply
  12. Richard Fang mengatakan:

    @xd: ya klo ke kantor/tempat2 lain yg penting sih ga lusuh donk hehehe tau tempat aja jgn saltum, cuma kadang2 bagi kita itu udah paling rapih tapi orang lain liat nya beda lagi.. mungkin bagi mereka masih kurang ok hahaha ya jadilah di cuekin.. klo gue sih biasanya liat matanya, gaya bicaranya dan bobot bicara nya juga..

    iya Lix, temen gue juga banyak yg gtu, hukum alam apa yah? hahaha

    ReplyReply
  13. emilo99 mengatakan:

    apa yang dipilih oleh john dillinger merupakan pilihan hidup nya. dia tidak setengah2 dalam apa yang dia lakukan.mo jadi penjahat ya jadilah penjahat seutuh nya, mo jadi polisi ya jadilah polisi seutuhnya. itu merupakan pilihan hidup dan resiko yang ditanggungnya tanpa bimbang untuk mencari siapa sebenarnya tentang dirinya. dia tahu atas apa yg dia lakukan dan resikonya. bukan pengecut yang takut atas dirinya sendiri. karena ada orang yang umur nya hampir setengah abad tapi dia tidak tahu siapa dirinya. like lost self identity dan tidak tahu tujuan serta buat apa dia hidup.karakter john,merupakan salah satu pilihan hidup atau jalan hidup yang dipilihnya bukan sebuah ketakutan untuk tetap diam ditempat tanpa memilih pilihan hidupnya. karena diam ditempat bukan merupakan pilihan melainkan tindakan menunggu sampai diharuskan untuk memilih.rasanya hampa dan kosong.apalagi jika penuh dgn rasa penyesalan tak termaafkan hanya terus melihat kebelakang tanpa memikirkan apa yg harus dilakukan terhadap dirinya sekarang dan kemudian.

    ReplyReply
  14. emilo99 mengatakan:

    itu lah kehidupan yang penuh dgn raional dan logika sekarang ini selalu melihat sesuatu dari tampak luar dahulu mungkin ini sudah menjadi pola pikir manusia sekarang ditambah dgn aturan2 formal dan etika norma serta gaya hidup yang semakin hedonis dan egoisme personal.kemunafikan(jaim)sudah jadi virus yg menyebar layak nya udara yg kita hirup.thats its a common dude!semua tergantung karakter dan pilihan prinsip hidup mu.satu hal! tidak akan ada yg berubah.kecuali dirimu sendiri.jika kau mau?

    ReplyReply
  15. Putri Sarinande mengatakan:

    @Richard Fang: ideeem.. gwa mah sangking terbiasanya jadi kebiasaan.. hasilnya, ya gini ini. nyasar ke twentea..
    lihatlah dengan mata dan batinmu. bheuuuh..

    ReplyReply
  16. novi vizainiyah mengatakan:

    aku setuju banget kita harus melihat orang tidak hanya dari asal naya tapi tujuan dan niat nya

    ReplyReply
  17. kiky mengatakan:

    setuju dg artikel di atas. Tapi kdg tanpa sadar kita ngelakuin hal seperti itu, menjudge hanya dari luarnya. Mau gmn lagi, mata kan jendela dunia. Apa yg terlihat oleh mata, itulah yang terlihat dari dunia luar. Mungkin kalo kita bisa sejenak menutup mata kita dan lebih menggunakan mata hati kita, kita bisa melihat kebenaran dan tujuan tu orang.
    Tapi tetep aja, kesan pertama pasti dari tampilan luar….

    ReplyReply

Berkomentar

Advertise Here
Advertise Here

Tentang Kami

Twentea adalah sebuah majalah online untuk anda yang berumur dua puluh-an. (baca selanjutnya).


Twentea membahas tentang tips gaya hidup yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk membangun pikiran dan tubuh yang lebih sehat.
Seperti hal-nya tea dengan segala sisi positif-nya, kami juga menyarankan anda untuk meminum Twentea setiap saat :)


Twentea @ Twitter