Apa yang akan kamu lakukan ketika kamu membenci seseorang? Cukup sekedar aksi diam atau langsung marah-marah?
Saya ingat, ketika saya masih berumur 5 tahun, ayah saya membelikan berbagai macam alat tulis. Dan salah satunya adalah pensil 2B bergaris hitam dan merah dengan penghapus kecil berwarna merah di bagian belakangnya. Beberapa saat setelahnya, tetangga saya dengan sengaja memainkan penghapusnya dan patah begitu saja. Saya pun menangis sejadi-jadinya dan segera melaporkannya ke ayah saya. Seperti yang sudah diduga, anak tetangga itu dimarahi habis-habisan.
Lain lagi ketika beranjak remaja, saya bertengkar hebat dengan salah seorang sahabat karena dia telah menuduh saya merebut kekasihnya. Tanpa berpikir panjang, kami berdua hampir terlibat baku hantam ala cewek ABG (baca: jambak menjambak, dorong mendorong dan tampar menampar). Namun salah seorang teman segera melerai kami berdua, fiuh!
Di era dewasa, sepertinya banyak juga momen seperti itu, seperti di saat saya bekerja kantoran. Salah seorang rekan satu divisi begitu membenci saya hanya karena saya kenal dekat dengan seseorang di perusahaan tersebut yang menjadi musuhnya. Dia pun melakukan segala cara agar saya tidak kerasan bekerja di sana seperti menyindir, mencela dan menghina sampai menyebarkan gosip bahwa saya menggoda pacarnya yang bahkan tidak lebih keren dari banci pasar.
Kesalkah saya? Tentu saja, ingin rasanya saya menaruh racun tikus di dalam mie instannya yang setiap hari dia pesan. Tapi saya tidak membalas dengan cara yang sama seperti yang dia lakukan, karena itu berarti saya sama hinanya dengan dia. Yang saya lakukan hanya tersenyum dan melakukan semua pekerjaan saya dengan sebaik-baiknya lalu memberikan hasil laporan kinerja yang jauh lebih baik daripadanya. Tak lama setelah itu, dia pun dipindahkan ke divisi lain karena menurut gosip, bos tidak puas dengan kinerjanya.
Seseorang yang kita benci itu bisa jadi rekan kerja, sepupu, calon ipar, atau bahkan saudara kandung sendiri. Apalagi ketika kita jelas-jelas yakin bahwa kita tidak bersalah dan begitu banyak sikap dan tindakan tidak-dewasa yang biasanya dilakukan oleh orang-orang kebanyakan.
Kadang rasa kesal memang sangat susah untuk dikendalikan, dan saya pun seringkali lepas kendali dan akhirnya hanya bisa menyesal atas tindakan saya yang terlalu ekspresif. Namun seiring dengan bertambahnya usia dan menjadi seseorang yang sudah berumur duapuluh-an, ada baiknya kita menarik napas, tenang, dan memikirkan strategi pembalasan yang jauh lebih elegan. Betul?
Foto oleh: dlanod
Pastikan anda tidak ketinggalan suguhan teh Twentea! Anda bisa berlangganan melalui RSS feed, email. Anda juga bisa bergabung dengan grup Facebook.
Artikel Terkait
- Sikap Wanita yang Sering Disalahartikan
- Resep Rahasia Berpacaran
- Menjadi Anak Kesayangan Bos
- Ternyata Penampilan itu Memang Penting lho!
- Kebiasaan Yang Disukai dan Tidak Disukai Wanita








Halaman Facebook
Ikuti kami di Twitter
August 6th, 2009 at 7:46 pm
sepertinya curhat niech
.. iaych mbak .. udah tua lhoo .. dua puluah nyaris sampe 30th
perlu latihan dalam mengendalikan emosi .. klo tidak tahan dan pengen marah tapi klo perang takut kalah.. silahkan ditulis di blog
karena emosi anda akan membawa banyak orang tertawa sehat
*ada baiknya kita menarik napas, tenang, dan memikirkan strategi pembalasan yang jauh lebih elegan. Betul? sepertiny masih dendam neich
dijodohin ma banci pasar
August 7th, 2009 at 12:38 pm
sampai sekarang aku sendiri pun sering lepas kendali…jika berhadapan dengan musuh bebuyutanku…biasanya aku mengucapkan kata2 yang akhirnya ku sesali…
tapi belakangan ini…aku berprinsip…lebih baik diam aja…alias no comment…
secara dia adalah anak kesayangannya bos…:P
August 7th, 2009 at 9:34 pm
ideem lagi.. marah itu diperlukan demi Harga Diri – halaaakh,, asal dilakukan dengan cara elegan.. itu baru twentea’ers sejati ^,^
August 11th, 2009 at 9:41 am
setuju dengan putri ” she say :marah itu diperlukan demi Harga Diri”. daripada di diemin ga tau diri mending dimarahin biar tau rasa.wkwkwkwk
August 12th, 2009 at 12:58 pm
@Wedhuz Gununk: tau aja uda deket 30, bentar lagi gw musti pensiun dari twentea nih..
*pembalasan yang jauh lebih elegan dan jauhhhhh lebih kejam (ketauan deh masih dendem, wekekek)
@Gabby: pasti si dia belagu yah mentang2 anak emas bos, klo dalam istilah di kantor gw dulu disingkat GB alias Golden Boy hehe. Coba terus alihkan perhatian bos ke kamu biar dia tau rasa. Smg berhasil.
@Putri Sarinande & @Maulaya Iskak: Emang seh klo udah tereak2 banting2 kok rasanya lebih lega gitu jeung, tapi abis itu masalah baru muncul (contoh klo handphone baru kebanting kan nyesek bok). Jadi gw usahakan menerapkan prinsipnya si Swordless Samurai Hideyoshi “Prajurit terbaik tidak pernah menyerang dan petarung sejati menang tanpa kekerasan” halah bisa ndak yah.
August 12th, 2009 at 6:01 pm
@lany duch kok ndak nulis lagi sich ??
kan makin tua makin berisi
makin bermakna ..
August 12th, 2009 at 7:06 pm
@Wedhuz Gununk: boong de.. walopun ntar lagi udah ga bisa dibilang umur duapuluh-an, tp gw mo tetep bikin kerusuhan di twentea biar awet muda slalu.
August 12th, 2009 at 9:42 pm
jeung lany ini gimana thoh.. Harga Diri bow,, marah lah, asal tetap elegan..
lhah, mo berapa pun usia kita Jeung Lany ^,^ selagi twentea ada maka KITA akan tetap berusia 20-an. hoho..
itu dia makna filosofisnya TWENTEA. umur bolee nambah teruuus, jiwa tetaaap DUA PULUHAN.. hoho..
August 13th, 2009 at 1:29 pm
@Putri Sarinande: hohoho twentea emang anti aging andalanku.
October 23rd, 2009 at 8:23 pm
Luv that idea. Cool n elegant… nice…!