Pernahkah kamu, merasa bahwa segala sesuatu nampak tak tertanggungkan lagi? Pernahkah terbersit dalam pikiranmu, keinginan untuk bunuh diri? Pernahkah kamu, mencoba bunuh diri? Pernahkah kamu, gagal bunuh diri dan masih kepingin bunuh diri? Dan,, pernahkah ada orang yang kamu kenal ingin bunuh diri?
Astaga! Sini sini, dengarkan dulu cerita saya..
* * *
Saya mendadak dekat dengan seorang rekan kerja saya, secara emosional. Padahal sebelumnya, saya menduga ia hanya perempuan tukang poles muka!
Untungnya, saya percaya dengan ungkapan klasik, “Tak Kenal, Maka Tak Sayang”.
Bermula dari adanya kegiatan menjaga display bersama, saya dan dia mendadak saling mengakrabkan diri. Tentu saja, saya suka (senang dan sering) berteman.
Hanya dalam waktu singkat, ia mempercayai saya untuk menjadi pendengarnya.
Apakah itu maksudnya ia berkeluh kesah? Benar. Namun yang menarik, ia meceritakan keluhannya dengan tekad setebal baja.
Omong-omong, baja memangnya setebal apa? Baja adalah campuran logam yang dalam komposisi sedemikian rupa menjadikannya kuat. Kiranya, itu alasan mengapa baja kerap diasosiasikan dengan hal yang tak mudah rapuh. Maaf jika ada kekurangan pemaknaan tentang baja. Saya hanya menggali sisa ingatan saya ketika dulu menjabat status megah : mahasiswa.
Oke, jadi apa keluhan si teman saya ini?
Wow! Saya salut dengan ceriteranya itu.
Ia, ketika itu sudah mulai berstatus ganda : pekerja yang juga pelajar. Ya, ia sedang melanjutkan proses S2-nya yang sempat tertunda. Kenapa bisa? Karena hal klasik, ayahnya meninggal.
Ia berkata : “Lu bayangin.” Oke, dalam hati saya. Saya bayangkan..
“Gue balik ke rumah, dengan tabungan tersisa limaratusribu. Duit gue abis untuk bakal S2 dan ternyata takdir berkata lain bahwa sebagai anak tertua gue musti ikut bertanggungjawab dengan keluarga sepeninggal bokap. Belum termasuk gue abis korban perasaan, cowo gue tidur ama perempuan entah siapa! Untung engga ada masalah harta gono-gini. Gue depak aja tuh cowo. Dan setelah satu taun kerja, gue nekat ambil studi ini karena gue udah tau gambarannya gue akan bisa menapaki tingkatan yang lebih daripada sekarang. Tinggal gue jaga fisik aja biar sanggup, senin sampai jumat nguli dan mulai jumat siang sampai sabtu sore gue kuliah. Soalnya, gue juga sambil coba-coba bisnis kecil-kecilan ama nyokap. Gila, tua sebelum waktunya gue!” ucapnya, diiringi tawa satir di akhir.
Hmm, menarik mendengarnya. Ia yang berumur dua puluh-an, dan mencoba menjaga dirinya agar tetap berjiwa dua puluh-an, agar tetap segar seperti Twentea dan Twentea-ers..
Kira-kira, itu rangkuman ceriteranya. Tentu ketika ia bercerita, tidak sekaligus seperti itu. Ada bumbu-bumbu intermezzo sehingga ceriteranya itu menjadi curcol, curhat colongan.
Ketika sang teman balik bertanya, saya hanya bisa megedikkan bahu sembari tersenyum konyol. Masa iya sih, saya harus balik curcol sama dia?
Maka, saya hanya bercerita bahwa saya cukup beruntung bisa tinggal di sebuah rumah tanpa membayar biaya tagihan listrik, ledeng, gas dan lain-lain. Tentunya rumah milik ayah dan ibu saya.
Sang teman tersenyum bijak. Seraya berkata, “Mending lu ngaku gitu daripada munafik, sok-sok mandiri.“
Saya terbahak-bahak. Dan akhirnya kami jadi tertawa bersama. Benar sekali komentarnya itu, sebab saya menumpang!
Ternyata, dia masih ngeyel ingin gantian mendengar saya. Ia curiga sebab saya nampak bergembira-ria nyaris selalu, setiap ia melihat saya.
Saya katakan padanya, bahwa saya memutuskan untuk tidak peduli. Apa pun yang mungkin terjadi dan tidak membuat saya mati mendadak, jarang saya ambil pusing.
Saya dan si teman kembali tertawa bersama pada kehidupan yang terkadang membuat kami ingin berteriak frustrasi.
* * *
Tanpa bermaksud memihak jenis kelamin tertentu, saya salut dengan si teman itu tadi. Tidak cuma perempuan yang bisa mengeluh, lelaki pun berhak mengeluh. Lantas, apakah itu alasan untuk menyerah pada kehidupan?
Hey, biarkan Tuhan bekerja dengan cara-Nya sendiri. Saya percaya dengan kalimah-bijak : Segala yang tidak membunuhmu membuatmu kuat. Dan saya pun meyakini, bahwa berani hidup lebih relijius ketimbang berani mati. Sebab, itu artinya kita tidak melangkahi Kewenangan Tuhan..
Yakin masih ingin bunuh diri?
Foto oleh: francisquini
Pastikan kamu tidak ketinggalan suguhan teh Twentea! Kamu bisa berlangganan melalui RSS feed, email. Kamu juga bisa bergabung dengan grup Facebook.
Artikel Terkait
- Terapi Musik? Yuk Kita Coba!
- Memahami dan Hidup dengan Stres
- Sesekali Menjadi Pelacur? Tak Masalah..
- Memaafkan Diri Sendiri
- Suatu Ketika dalam Hidupmu







Halaman Facebook
Ikuti kami di Twitter
September 14th, 2009 at 10:07 am
Saya mungkin adl bukti nyata kalimat bijak “apapun yg tdk membunuhmu, membuatmu kuat”
. orang tua saya meninggal mendadak krn gempa meninggalkan saya n kedua adik saya yg masih sekolah. jadilah saya (yg waktu itu baru tamat kuliah) menjadi tulang punggung keluarga. tak pernah ada saudara atau family yg menanyakan keadaan kami. dan syukurnya…krn kekuatan dr yg diatas…sampai saat ini kami (saya n adik2 saya) baik2 aja.
Semua nya terjadi bukan krn saya kuat, tapi emang krn sudah jalannya…ya dijalani aja…mau mengeluh jg…ga akan ada bedanya…kuatkan hati…n semangat…jika niat kita baik…pasti ada jalannya…:)
September 14th, 2009 at 4:16 pm
@Gabby : Turut berduka dan thanks for your great story. And setuju banget dengan statement lo, semua kejadian pasti membuat kita lebih kuat kalo kita bisa lewatin.
And pastinya berkat Tuhan juga.
Amiiinnn….
September 14th, 2009 at 11:22 pm
@Gabby: @Widi:
terutama gabby, senang akhirnya kamu bisa berkata demikian bukan?
salam sejahtera untukmu selalu di sana.. kami Kru Twentea (hallah, gwa ngaku-ngaku hehehe) salut sebab kamu mampu mensyukuri Berkat Tuhan : kehidupan.. dan membaginya pada semua di sini
September 15th, 2009 at 12:37 pm
Sungguh terperanjat dengan sharing pengalaman Gabby!
Semoga elu & adik bisa baik2 aja yah.
Gw baru pernah denger nih pribahasa yang okey banget-nya Putri “Segala yang tidak membunuhmu membuatmu kuat”!
September 15th, 2009 at 11:04 pm
@Gabby: sumpah lu tegar banget menghadapi hidup Geb… gw salut, gw kasih jempol buat loe… LANJUTKAN!, jangan menyerah Geb, kita dukung lewat doa aja dari sini warga Twentea.
September 15th, 2009 at 11:52 pm
wah harusnya judulnya “Segala yang tidak membunuhmu membuatmu kuat” tapi nggak semua orang kuat ada beberapa yang menyalahkan keadaan dan kadang menyalahkan Tuhan. Gw belum pernah mengalamin keadaan kayak Gabby dan temennya putri tapi setiap orang memang punya masalah masing-masing. Dan berat tidaknya masalah tidak ada yang bisa mengukur karena setiap orang punya batasan yang berbeda-beda.
September 16th, 2009 at 2:51 pm
@Setyagus Sucipto: engga juga sih Wahai Yang Dipertuan Setyagus Sucipto. masalahnya adalah problem, kuat atau tidaknya memang relatif sebagaimana ga semua orang kuat dan ga semua orang menyalahkan keadaan dan Tuhan (pakai te kapital)
dan problemnya hanyalah masalah, setiap orang memang diciptakan berbeda. ini sih cuma ajakan untuk bikin hidup lebih hidup, udah capek-capek bernapas juga..
September 17th, 2009 at 8:02 am
Intinya…apapun masalahnya…
yang penting tetep semangat…jangan menyerah…:)
September 17th, 2009 at 8:27 am
yah, kalo menurutku sih…
apapun masalahnya…(kayak iklan), yang penting semangat…n jangan menyerah
We can make it.