Categorized | Keseharian

Mari Dapatkan Hak Kita Sebagai Konsumen

Bermula dari obrolan ala twit antara saya dan Liliek (seorang pekerja serabutan project manager, designer, web designer, web developer di Gagas Imaji) tentang keluhan Liliek dan kembalian recehnya.

Hey, kenapa dia?

Dia, dan tampaknya dialami tanpa sadar oleh banyak di antara kita yang kerap bertransaksi di sejumlah swalayan, menerima kembalian recehan berupa permen. Sekedar seratus dua tiga atau empat ratus. Menjadi satu dua tiga atau empat butir permen. Permen apa saja, tak peduli merk. Dijadikan oleh para kasir sebagai uang kembalian.

Saya pribadi kerap penasaran dengan nominal harga jual di itu swalayan-swalayan – sebab pasti akan ada angka-angka aneh yang menjadikan para pembelinya menerima kembalian yang janggal.

Kenapa janggal? Seperti kita semua ketahui, nilai uang di Negara Tercinta Indonesia cukup rendah (entah deh, saya bukan Tukang Bank atau pun Tukang Ekonom). Dan nilai uang terkecil yang masih umum dijumpai adalah kepingan logam seratus rupiah. Saya masih ingat pula, ketika uang lima puluh rupiah masih berseliweran, maka uang kembalian permen itu berharga lima puluh rupiah. Kini, bahkan permen sudah semakin mahal..!

Liliek pun menambahkan kejadian pembulatan pembayaran yang harus dibayarkan. Angka-angka aneh macam Rp75,00 atau Rp65,00 atau bahkan Rp45,00 dijadikan Rp100,00 dan tetap kembalian berupa permen!

Apakah hak kamu sudah terpenuhi?

Apakah hak kamu sudah terpenuhi?

Itu baru dalam keseharian yang saya, Liliek, dan entah berapa banyak orang lain alami. Itu baru untuk nominal rupiah yang kadang memang diabaikan. Meskipun demikian, konversi sekian  rupiah itu jika terjadi pada,,, katakanlah seribu konsumen. Menguntungkan juga ya bagi kas mereka itu?

Mungkin mata uang kita akan berkembang menjadi permen. Dan apakah kita sedang ditipu? Menurut saya, lebih tepatnya dibodohi. Lebih menyedihkan daripada sekedar ditipu..

Tapi ini. Ada yang lebih seru. Terima kasih kepada teknologi.

Saya baru saja membaca Janin Surat Pembaca seorang Muhidin M. Dahlan di Facebook dia. Ia yang kerap disapa Gus Muh (menulis Para Penggila Buku bersama Diana AV Sasa, pengasuh portal berita buku Indonesia Buku.com) menderita sejumlah nominal akibat perjanjian yang kurang jelas dan cenderung merugikan konsumen. Dan Gus Muh bukannya tanpa rujukan dengan itikad baiknya itu hendak mempertahankan haknya sebagai konsumen. Meski beberapa rekan lain di Facebook Gus Muh turut serta berkomentar dan berbagi pengalaman apes dengan produk lain, namun inti yang mereka keluhkan sama. Mereka hanya ingin haknya dipenuhi sebagaimana mereka telah memenuhi kewajiban mereka sebagai konsumen.

Kalian bisa lihat rujukan Gus Muh terhadap produk yang ia keluhkan di sini.

Berikut ini kutipan keluhan seorang Gus Muh sang Konsumen Malang :

… … …

Tak manjur menekan saya di situ, saya diberi penjelasan yang menurut saya “membodohi” setelah mereka memeriksa “log” rekam-pakai modem saya. Katanya: “Pemakaian Anda dari 1 hingga 11 September (sebagaimana tertera dalam “log” pemakaian) ya sudah 2.4 GB.”

… … …

Sebagai warga negara RO (Republik Online), saya menyarankan kepada warga RO yang lain agar hati-hati dengan jebakan dan aksi-aksi sepihak penyedia internet seperti … .

MUHIDIN M DAHLAN
Kembaran RT 02 Taman Tirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta
No KTP: 340216.120578.0006

Sengaja saya tidak tampilkan utuh Surat Pembaca Gus Muh. Saat saya menuliskan ini, Surat Pembaca itu sedang dalam perjalanan untuk menjumpai Tujuannya Yang Seharusnya. Dan saya perlihatkan pada kalian cuplikan barangbukti dari TKP. Ini dia..

Pembeli adalah Raja. Aturan lawas tak tertulis itu telah berlaku lama dan sepertinya akan terus berlaku. Adakah di antara kalian yang menjadi Raja Yang Tertipu?!

Ayo kita sama-sama berbagi pengalaman – dan tentu saja solusi, dan kemungkinan-kemungkinan lain terhadap isu ini…

Foto oleh: Darkensiva

Pastikan kamu tidak ketinggalan suguhan teh Twentea! Kamu bisa berlangganan melalui RSS feed, email. Kamu juga bisa bergabung dengan grup Facebook.

Artikel Terkait


Tentang Penulis

Putri Sarinande. pemilik intelejensia selevel amuba yg suka nulis apapun demi merapikan isi otaknyah yang amburadul...

Buat kios gratis dan langsung jualan online di QiosQu

19 Komentar Untuk Artikel Ini

  1. Wedhuz Gununk mengatakan:

    nie cantik dimana2 selalu jadi provokator :D

    pasti waktu kuliah sering turun ke jalan-jalan :))

    *klo di supermaket yach gitulah … mo gmana lagi katanya ndak ada recehan :(

    ReplyReply
  2. ChaCha mengatakan:

    sering banget mini market / dept store dengan santainya blg kembaliannya diganti permen. bahkan yang nilainya Rp. 100 atau Rp. 200

    idealnya sih mereka tanya dulu, konsumen keberatan ga.
    konsumen punya hak keberatan.
    walaupun cuma coin ratusan.

    ada juga perusahaan yang membulatkan keatas,
    tujuannya untuk dikumulasi dan disumbangkan.
    mungkin yang seperti itu lebih jelas alasannya.

    tapi yg sedikit ganggu tuh yang seenak jidatnya diganti permen.
    klo permen kan ga bisa dikumpulin di coin a chance :(

    ReplyReply
  3. Foeng mengatakan:

    ada jg swalayan yg membulatkan ke atas semua nominal ganjil jadi seratus..
    misalkan 1.054 -> jadi 1.100
    selisih 46 rupiahnya di infaq’kan..
    gimana, jadi lebih ikhlas kan?
    Tapi kalo belanjanya 1.900, trus kita bayar nih pake duit 5.000 selembar. jangan heran kalo dikembaliin 3.000 + 1 biji permen..alasannya gk ada uang receh..
    mau gk? yah, mau gk mau diambil aja (*sambil bersungut-sungut)..

    ReplyReply
  4. Kuswanto Kus mengatakan:

    Solusi masalah ini adalah dengan kartu micropayment. Gak akan ada lagi uang receh yang dibulatkan. Tapi sayangnya, baru satu Bank yang benar-benar serius dengan Micropayment.

    ReplyReply
  5. Putri Sarinande mengatakan:

    WeGe : saya cantik? trims ^^ biasanya saya ga punya otak, jadi kalok nulis suka lupa mikir? wajar. dan pas kuliah, saya bukan turun ke jalan. tapi menyenyong-menyenyong di gerbang kampus, haha hoho sampe pagi, lupa besok paginya kuliah..

    foeng : bersungut-sungut? sedekah terpaksa? mending ga usah sekalian..

    Cus : baru satu bank, yang serius. hullo deer (in british accent) emangnya semua swalayan ataw dept.store itu megah?

    ada lagi : ini bukan sekedar satu dua tiga empat ratus rupiah, ini bukan tentang kecurigaan semata
    prihatin, karna teman saya bilang : kaka gwa kerja di situ (produk bermasalah) maka gwa ga akan cuekin artikel lo (artikel produk-penipu)
    di mana-mana duit itu bukan permen.. dan, gwa rasa konsumen yang menderita satu dua tiga empat ratus itu ada sealaihim gambreng, juga yang bersungut-sungut karena sedekah paksa

    okay, next : komentar selanjutnya..

    ReplyReply
  6. Putri Sarinande mengatakan:

    ralat : maka gwa cuekin artikel lo (si produk penipu, yang saya sebar di YM dan bersyukurlah kalian yang ada di YM saya sebab ketimpa sial, bwahahaha..)

    oke, saya diam (tapi ga janji). tapi teuteup : NEXT. Komentar Selanjutnyaaaa..?

    ReplyReply
  7. Felix Widjaja mengatakan:

    @Kuswanto Kus: haha baru gw mo nulis pake kartu kridit. Seperti di kerfor, dengan kartu BCA kerfornya.

    Dipikir2 benar juga argumen “raja yang tertipu”, walaupun gw sering menemui kasir alfamart/indomaret yang masih sedikit sopan (namun tetap saja memaksa): “kembalianya pakai permen ya mas?”; Mulut rasanya pingin balas menimpali “Gak jadi beli dhe, batalin transaksi!”, biar sekali2 bengong si mas/mbak kasir.

    ReplyReply
  8. Gabby mengatakan:

    Saya selama ini ga terlalu memperhatikan n ga mempermasalahkan uang receh kembalian dr supermarket…yg berubah menjadi permen…saya pikir, mungkin emang mereka ga punya recehan. tp kl dipikir2 lagi (setelah membaca artikel ini), emang akhirnya pihak supermarket bisa mendulang keuntungan tambahan dr pembulatan ke atas n kembalian yg menjadi permen itu (walaupun pembeli nya kemungkinan besar ga senang). mmm…yah, membayar dgn kartu debit atau kredit emang bisa mengatasi masalah ini. karena jumlah yg harus dibayarkan langsung didebet atau dikredit dr kartu kita.

    tapi masalah seperti Gus Muh itu pernah saya alami.
    walaupun kasus nya tidak sama n jg bukan dgn operator yg sama.
    Saya tidak akan cerita detail krn bakal kepanjangan.
    intinya, modem nya itu sejak beli hingga 1 bulan…tdk bisa dipakai.
    n customer service nya jg bingung…saya sampai komentar “kl ga bisa ngasih solusi, jgn nyebut diri CS dong” saking jengkel nya….mengingat email n telp complaint dr saya sebelumnya tidak diindahkan.

    untungnya sekarang modemnya sudah bisa dipakai.
    walaupun CS nya rada ketakutan melihat saya…heheheheh

    ReplyReply
  9. Putri Sarinande mengatakan:

    @ felix : ditunggu percobaannya. jangan sampe saya yang melakukan percobaan itu duluan yak ^^

    @ gabby : gitu deh, makanya saya malas mikir ^^ ajip dah, CS dibantai? juara deh gabby *cup muaah.. heuheuw..*

    ayoooo, mana lagi Komentar Selanjutnya..

    ReplyReply
  10. Widi mengatakan:

    Bukannya mau “dibodohi” tapi apa waktu kita “murah” untuk memperdebatkan uang cepek ato permen?
    Kalo saya sih mending yaudah lah, toh waktu saya lebih berharga dibanding cepek or permen :)

    (even maksud penulis itu cuma “gambaran”, tapi kurang mengena. IMHO.)

    ReplyReply
  11. sasa mengatakan:

    Eghmm….

    ReplyReply
  12. Putri Sarinande mengatakan:

    @Widi: ho oh, cerdas deh kamuh ^^
    justru itu, pihak penjual memanpaatkan kecenderungan seperti yang kamu katakan.
    “ah, mereka ga akan rugi hanya satu dua tiga empat ratus..” sembari terjadi pada minimal 1000 konsumen sehari sih ada. lumayan bagi mereka, pihak penjual untuk mendapat modal tambahan ^^

    *dasar saya si ngotot, bwahaha…*

    ReplyReply
  13. Hendrik mengatakan:

    paling bener di IKHLASKAN SAJA pas dibilang permen, NGAK USAH DEH BUAT LU AJA PERMENNYA hahahaha

    ReplyReply
  14. Widi mengatakan:

    @putri : memang bener mereka dapat “lebih” tapi berapa yang mereka dapatkan dari kembalian permen? Toh permen dijadiin subsidiary aja, dan kalo dapet uang logam 50, 100 perak putri pake buat apa ya?
    Kalo saya sih cuma taro di mobil buat kasih pengemis / pak ogah, kasih pengemis 100 perak pun rasanya gak enak jadi kasihnya beberapa keping d.

    Tambahan lagi sekarang ini belanja di supermarket besar banyakan pake credit / debit card kalo dalam jumlah yang cukup lumayan.
    Kalo mini market emang banyakan tunai tapi juga dengan konsumen yang sedikit.
    Setau saya permen dikasih juga karena tidak ada recehan, kalau memang ada recehan pasti dibalikin recehan koq.

    Mending kalo mo berguna, recehan2 yang gak kepake dikumpulin trus disumbangkan ke temen2 yang membutuhkan :).

    ReplyReply
  15. cemputh mengatakan:

    @Widi: iyah wid, iyah. seperti halnya gw si penulis ngotot. dirimu pun pembaca ngotot. ya da gw sih engga kayak elu. belanja partai besar. buat makan aja susah,, *kebiasaan idup ngegembel sih..*

    NB : ati-ati dianggap haram. kasi uang ke pengemis. hoho..

    ReplyReply
  16. Widi mengatakan:

    @cemputh : ini orang yang sama dengan putri ya? Saya juga cuma berpendapat dan kasih respon, nothing personal :).

    ReplyReply
  17. cemputh mengatakan:

    @ widi : iyah wid. itu kek semacam nama panggilan *heuleuh*
    tak apeu. komentari lah sepuasmu, agar meriah hidupmu ^^

    ReplyReply
  18. Widi mengatakan:

    @cemputh : ooooo bulet…., btw komentar bisa meraih hidup ya? mungkin kalo jadi komentator bola iya waakkaka

    ReplyReply
  19. cemputh mengatakan:

    hey hey hey… silakan cek tret kaskus berikut ini. asik deh, kita gentian bayar pakai permen ke si kasir. yippeee!

    http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2535022

    ReplyReply

Berkomentar

Advertise Here
Advertise Here

Tentang Kami

Twentea adalah sebuah majalah online untuk anda yang berumur dua puluh-an. (baca selanjutnya).


Twentea membahas tentang tips gaya hidup yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk membangun pikiran dan tubuh yang lebih sehat.
Seperti hal-nya tea dengan segala sisi positif-nya, kami juga menyarankan anda untuk meminum Twentea setiap saat :)


Twentea @ Twitter

  • Komentar
  • Populer
  • Utama
  • Tag
  • Langganan