Categorized | Keseharian

Budaya Heboh dan Exist di Balik Peluncuran Film 2012

Baru-baru ini terlihat di beberapa bioskop layar lebar, antrian-antrian yang cukup mengular layaknya jalanan macet karena hujan yang penuh dengan kendaraan, untuk menonton suatu film yang bertajuk tentang kiamat dengan judul 2012.

Film 2012 menceritakan tentang apa yang akan terjadi pada dunia ini pada tanggal 21 Desember 2012 yang konon dikatakan bahwa dunia akan memperbaharui dirinya. Serta ada beberapa penelitian ilmiah lain seperti jilatan lidah matahari ataupun pemanasan global, bahkan planet X yang dikatakan akan menabrak bumi (layaknya film Armageddon) yang baru-baru ini dibantah oleh badan antariksa Amerika yang menyatakan itu semua adalah hoax alias bohongan, alias hanya TYME yang tahu, atau kamu percaya salah satu perkataan di film 2012 yang mengatakan:

When the goverment told you to stay calm, it is time for you to panic

Di balik kehebohan antrian film 2012 yang antriannya mengular seperti “mau kiamat” sampai-sampai hingga ke luar pintu bioskop, tampak budaya masyarakat yang suka menikmati kehebohan dan antusias untuk menonton film tersebut. Padahal menurut pendapat pribadi saya, film ini ceritanya tidak jelas, dan hanya mengandalkan efek-efek komputer mutakhir yang cenderung berujung pada sesuatu yang mustahil.

2012 beneran atau bohongan?

2012 beneran atau bohongan?

Sebelum menonton film bioskop, saya (dan saya yakin sebagian besar dari kita) biasanya tertarik untuk melihat dulu nilai film-film yang akan ditonton dari situs perangkum kritikus film yaitu Rotten Tomatoes. Di sana dijelaskan film 2012 itu tidak bagus dan hanya mendapatkan 39% tomat (biasanya film diatas 75% tomat adalah film yang benar-benar bagus untuk ditonton). Sebagai contoh film-film yang masuk kategori tidak layak tonton atau dibawah 50% tomat adalah Street Fighter, Final Destination, Halloween II dan masih banyak lagi. Ekspektasi saya pun benar, film ini memang biasa-biasa saja, bahkan bila “kosmetika” efek komputer dihilangkan sehingga bisa secara objektif menilai jalan cerita dan konsep, film ini benar-benar sungguh terlihat total kejelekannya.

Cukup sering terjadi memang, masyarakat kita tidak atau kurang ber-analisa lebih dalam terlebih dahulu mengenai apa yang akan mereka tonton, beli, tuju, bela dan sebagainya. Kecendrungan untuk selalu ikut-ikutan dengan asumsi pasti ada sesuatu yang 100% bagus/benar/penting/perlu disana. Karena selera, kebutuhan, pemikiran, kecocokan setiap individu pastinya berbeda antara satu dengan lainnya.

Bagaimana menurut Twentea’ers? Apakah kamu termasuk salah satu yang menganut budaya heboh dan “yang penting exist dulu” ataukah sebaliknya?

Foto oleh: markusrothkranz

Pastikan kamu tidak ketinggalan suguhan teh Twentea! Kamu bisa berlangganan melalui RSS feed, email. Kamu juga bisa bergabung dengan Facebook Page.

Artikel Terkait


Tentang Penulis

Hendrik. Bertanggung jawab dalam mengurus konten di Twentea. Ia juga merupakan salah satu pengagas Twentea. Selain menjadi kontributor tetap di Twentea, beliau juga bekerja sebagai Product Manager di PT IAHGames Indonesia

Buat kios gratis dan langsung jualan online di QiosQu

30 Komentar Untuk Artikel Ini

  1. Sandi 'tube' Andrian mengatakan:

    Memang benar kalau animo masyarakat Indonesia masih kental dengan budaya ‘ikut-ikutan’, namun saya pribadi jadi penasaran dengan jalan cerita film itu. Layaknya film2 terdahulu seperti Knowing yang menurut saya juga tidak jelas.

    ReplyReply
  2. Widi mengatakan:

    @Hendrik : nyantai bro, tujuan nonton film kan refreshing. So just enjoy the show, and actually I’m quite entertained by the movie. Great visual and sound effects.
    Mungkin secara cerita standar, tapi apa yang diekspektasi dari film “musibah”? Mulai dari film Armageddon, The Day After Tomorrow, dll, semua plot juga “standar” tapi tetep kita enjoy untuk nonton right?
    Yang kita cari dari film seperti ini kan ketegangan nya.
    Dan satu lagi ambil dari kutipan temen g “mau enjoy nonton ya musti jadi orang bego yang mo diboongin sutradara”, kenapa? supaya kita bisa nikmatin filmnya dan gak usah mikir “Ahh bohong banget tuh film”. Damn! I hate those guys……

    And masalah kritikus, g sih gak perduli karena yang nonton kita, selera kita, kita yang nilai dan nilai setelah nonton.
    So bukan masalah exist or sok heboh, just enjoy the show bro… :)

    ReplyReply
  3. Gabby mengatakan:

    minggu lalu aku emang mau nonton film itu…tapi ampun d…
    rame bangeetttt…ngantri jam 1 siang, ternyata udah penuh ampe jam 21.30 malam.
    batall d. tapi kayaknya minggu ini pengen nonton film itu. penasarannnn…apalagi setelah baca artikel ini…padahal temen ku bilang film nya bagusss…makanya pengen tahu, setelah nonton film nya aku akan memihak kemana :)

    ReplyReply
  4. Hendrik mengatakan:

    @Widi: gw santai kok bro ehehe. film musibah yang paling bagus menurut versi gw itu Armageddon, ada perasaan berbeda saat nnt Armageddon dgn 2012 ini.
    Kalo gw pribadi emang tidak bgitu suka lagi dgn efek2 jebum2, gw lebih pilih film yang ada jalan ceritanya. Mungkin disana bedanya gw ama elo yah wid ehehehe.

    anyway kritikus rotten itu cuma alat bwat beranalisa, bukan suatu keharusan untuk diikuti, tapi selama ini gw basis disana rata2 bener sih, jelek yah jelek, bagus yah bagus… selera gw sama kali yeh ama org amrik sono hihihi

    ReplyReply
  5. Widi mengatakan:

    @Hendrik : Ok d Wi :) tapi g setuju kalo Armageddon ada unsur emosional nya. Jadi ceritanya selera barat nih ehheehe.
    G juga suka liet movie references dari rotten tomatoes, cukup ok tapi gak jadi patokan.
    Better nonton aja kalo menurut g trailer / sinopsisnya ok.

    2012 heboh juga hebat orang marketingnya, dan satu lagi waktunya itu lho nempel banget ama tahun sekarang.

    ReplyReply
  6. Hendrik mengatakan:

    @Gabby: hihi ok, kasih pendapat yah abis nnt tuw pelem :D

    ReplyReply
  7. Asep Bepitulaz mengatakan:

    Gw juga udah nonton ni film. Emang sih dari segi cerita biasa aja. Tapi berhubung gw maniak banget sama visual efek, bela-belain dah nonton ni film (soalnya liat dari trailernya aja dah mantap, jadi penasaran :D ).

    Hasilnya gw puas bangeeeet liat ni film, visualnya demen banget dah :D

    ReplyReply
  8. zam.web.id mengatakan:

    yang lebih menarik bukan film-nya tetapi budaya “ikut-ikutan, heboh, yang penting esksis dulu, tanpa analisa” ternyata luar biasa kuat di masyarakat Indonesia :)

    ReplyReply
  9. Felix mengatakan:

    Aduh yang 2011 aja gw belum nonton, ini uda keburu keluar yang 2012.
    Download di mana yah 2011, ada yang tau gak?

    ReplyReply
  10. Lany mengatakan:

    Kemaren gw malah nguping pembicaraan bapak2 di kafe yang menafsirkan kiamat dari sisi bisnis (dasar bapak2!):

    Bapak 1: Gw rasa orang2 di kota kecil bakalan percaya tuh yang namanya kiamat 2012.
    Bapak 2: Iya kali, emang kenapa?
    Bapak 1: Nah kalo memang mereka percaya bakalan kiamat 3 tahun lagi dari sekarang pasti pada dijualin murah tuh tanah, rumah, dll. Nah kita beli aja! Kalok kiamat ya udah, kaga rugi banyak. Kalo kaga kiamat ya bagus kita untung gede!
    Bapak 3: Bener juga lu! Apa gw komporin aja tuh temen2 gw di kampung kekekeke…

    ReplyReply
  11. hendrik mengatakan:

    @Lany: ahahaha lucu bgt nih komentar… parah dah tuw bapak2..

    tapi komentarnya kok pada OOT yah, kan pertanyaannya apakah ngikut budaya heboh atau ngak… hummmm

    ReplyReply
  12. Felix mengatakan:

    @Lany

    Bapak 4: Ehh bow, udah yuk jangan ngomongin bisnis lagi. Eke jadi mabok cin! Mending kita double date yuk nonton 2012!

    ReplyReply
  13. Widi mengatakan:

    emang zaman gini yang penting CUAN!!!!

    ReplyReply
  14. cemputh mengatakan:

    hallaaaah… yang menyebalkan sih kenapa di Indonesia banyak beut isu-isu kekiamatan itu. dari pelbagai bidang. daripada bosen dengernya, mendingan : Biarain Aja… ^^
    @ Hendrik : ciee, keren lou. belajar jadi penonton cerdas ^^
    @ Widi : demen gwa liad lou adu pendapat ama si penulis artikle ini ^^
    @ Lany : yang murah yang murah, bentar lagi kiamat. puas2 hidup hedon dulu. hoho..
    @ Mas Zam : bukannya kebiasaan orang Indonesia kebanyakan memang latah dulu baru mikir? oh, maap. saya bukan Orang Indonesia. saya sedang krisis kewarganegaraan. hwakakak….

    ReplyReply
  15. Lany mengatakan:

    @Hendrik, @ Zam; Gw juga kebelet banget nonton ni pelem sampe bela2in datengin 4 studio masih belom dapet juga! Alias gw termasuk yang pengen selalu eksis bok!

    ReplyReply
  16. Widi mengatakan:

    @lany : better nonton d, bagus koq gak nyesel :D . Dah nonton di megamal aja, deket kan ama rumah u :D .

    @cemputh : bukan debat, tapi diskusi. Ya gak Wi? hehe

    ReplyReply
  17. Yuli mengatakan:

    hiks..gw kena nih budaya heboh..ampe bela2in nonton jam 21:30..jam 1 baru sampe rmh, bsk masuk kerja dgn terkantuk2..alhasil..nyesel2 senyesel2nya..
    Sambil nunggu tuh film, gw nonton D13U jam 17:05, menurut gw sih bagusan D13U drpd 2012..may be next time, jgn pake budaya heboh yah..tapi budaya wait and see..

    ReplyReply
  18. hendrik mengatakan:

    @cemputh: yup betul kami (gw dan widi) hanya diskusi saja masalah ikutan heboh atau kaga…

    @Yuli: nah nah, satu lagi nih korban budaya heboh hohohoho

    ReplyReply
  19. Ncus mengatakan:

    Ngakak gw liat “pengupingan” Lany. Bisnisnya gak bener tuh orang. Langkah marketingnya sewa provokator tuh.

    Gw belum nonton film doarebuduabelas nih.

    ReplyReply
  20. Lany mengatakan:

    Udah nonton! Untung ga panjang2 amat kemaren antreannya, bagus tapi ga worth it sih kalo ikutan antre minggu lalu bagai ularnagasari panjangnya!

    @Ncus: *siap2 pulang purwokerto komporin tetangga*

    ReplyReply
  21. cemputh mengatakan:

    @Lany: Jeung Lany, dagang kompor yah kaw? ^^ owch, mo berbisnis ama NCus. akhuuuy…

    eh, ada pesan dari keribadian saya yang lain. katanya : kalem, mo diterawang dulu. nanti kalok ada berita terbaru, apa jadi atau engga kiamat, pasti kalian dapat konfirmasi via email. hoho

    ReplyReply
  22. andi mengatakan:

    bapak ke-5 : tapi awas lho, kalo 2012 nggak kiamat beneran, tanahnya buat ngubur kalian semua

    ReplyReply
  23. Widi mengatakan:

    @Bapak yang di Surga : BERTOBATLAH!!!!!

    ReplyReply
  24. ani mengatakan:

    Kayak agama aja. Hanya ikut2 semuanya. Contoh paling gampang teroris agama yg bertujuan untuk heroisme. Hanya ikut2an semuanya. Jadilah budaya. Paling parah jadi budaya teroris..

    ReplyReply
  25. Widi mengatakan:

    @ani : wueettsss….. jgn menyimpang nih. sensitif soal ginian :D

    ReplyReply
  26. hendrik mengatakan:

    waduh2 udah mulai ngalur ngidul semua nih lari dari pokok permasalahan yang menanyakan bahwa apakah kamu termasuk heboh dan exist atau bukan

    ReplyReply
  27. Felix Widjaja mengatakan:

    Gw uda nonton dan sampe sekarang masih sangat bingung kenapa bioskop bisa super antri untuk film yang kualitasnya hanya “segitu” doang.
    Orang Indonesia sangat unik.

    ReplyReply
  28. Lany mengatakan:

    @cemputh: buruan pulang crebon komporin tetangga!

    ReplyReply
  29. Eric mengatakan:

    Promo-nya huebat sich tuch film.. ampe MUI jd ‘marketing’ yg bikin penasaran org dan buru2 nonton dakh…

    ReplyReply
  30. Putri Sarinande mengatakan:

    @hendrik: bener Wi. lu kudu mulai mengatur orang-orang ini agar tak melebar n memanjang n meluas n menganeh komentarnya. bahaya Sob..!

    ReplyReply

Berkomentar

Advertise Here
Advertise Here

Tentang Kami

Twentea adalah sebuah majalah online untuk anda yang berumur dua puluh-an. (baca selanjutnya).


Twentea membahas tentang tips gaya hidup yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk membangun pikiran dan tubuh yang lebih sehat.
Seperti hal-nya tea dengan segala sisi positif-nya, kami juga menyarankan anda untuk meminum Twentea setiap saat :)


Twentea @ Twitter

  • Komentar
  • Populer
  • Utama
  • Tag
  • Langganan