Saat umur sudah melewati seperempat abad pertanyaan klasik mulai bermunculan khususnya dari orang-orang tua di sekeliling kita. Pertanyaan yang buat sebagian orang dianggap pertanyaan yang menakutkan dan sangat malas untuk menjawabnya. Mungkin yang sudah punya pasangan masih bisa menjawab “Tunggu tanggal mainnya.” atau “Belum ada rencana, masih saling menjajaki” dengan tenang dan berlalu tanpa memikirkan pertanyaan itu. Tapi bagaimana dengan orang yang belum punya pasangan, pasti pertanyaan itu jadi beban pikiran selama beberapa jam.
Hari ini saya mendapat pesan di Facebook yang menginspirasikan saya untuk menulis ini. Berikut adalah isi pesan tersebut:
Life only comes around once, make sure u spend it with the right person.
Find a guy who calls you beautiful instead of hot.
Who calls you back when you hang up on him.
Who will stay awake just to watch you sleep. Wait for the guy who kisses your forehead.
Who wants to show you off to the world when you are in your sweats.
Who holds your hand in front of his friends.
Who is constantly reminding you of how much he cares about you and how lucky he is to have you.
Who turns to his friends and says, ‘ That’s her!! ‘
Seperti isi pesan diatas pada intinya adalah hidup hanya ada sekali dan pastikan kamu melewatinya dengan orang yang tepat. Terkadang orang tua ingin segera anaknya menikah dan punya cucu sampai terkadang jaman Siti Nurbaya terulang lagi, orang tua mencoba menjodohkan anaknya. Memang terkadang ada juga orang tua yang tidak memaksa tapi pertanyaan yang sama terulang lagi “Kapan rencana mo nikah?” Belum dari keluarga yang lain, dari tante atau saudara-saudara yang lain yang mengajukan pertanyaan yang sama untuk setiap acara kumpul-kumpul keluarga. Pada akhirnya sang anak tertekan dan ingin segera menikah karena tekanan dari berbagai pihak.
Beberapa orang pasti berkata, “Ah kamu kan tidak mengalaminya.” atau “Laki-laki sih ngak pusing mau nikah umur berapa juga”. Padahal siapa sih yang tidak ingin ada yang ngerawat, ada yang bikinin makanan dan minuman? Apalagi perantauan seperti saya jauh dari keluarga. Alasan itu sepertinya lebih baik daripada tekanan dari berbagai pihak atau karena teman-teman kebanyakan sudah pada nikah. Saya cuma ingin mengingatkan bahwa hidup itu kita sendiri yang menjalani tiap langkahnya, bukan orang tua, keluarga, atau teman. Jadi pastikan pendamping kamu memang adalah yang pantas untuk itu.
Selektif, pemilih, dan banyak maunya? Tidak dipungkiri semua manusia ingin yang terbaik bagi dirinya. Tapi terkadang keinginan tidak sejalan dengan kenyataan hidup. Memilih pacar tentu selama masih cocok di mata mungkin bisa saja dengan mudah, tapi memilih pasangan hidup tentu kamu harus selektif dan pastikan dialah yang pantas menemani kita sampai di ujung jalan hidup. Fisik tentu bukan kriteria yang cocok untuk pilihan walaupun kebanyakan orang katanya dari mata turun ke hati. Sikap dan tanggung jawab adalah hal terbaik yang bisa dipertimbangkan untuk memilih pasangan. Tapi yang pasti adalah Tuhan selalu memberi yang terbaik bagi hambaNya yang meminta. Jadi siapapun itu dan bagaimanapun kita mendapatkannya itulah yang terbaik buat kita. Dengan ucap syukur dan menganggap yang kita terima adalah yang terbaik maka kita akan menjalani hidup dengan bahagia.
Jadi kenapa masih takut dengan pertanyaan itu. Kalau kita tidak menganggap nikah diusia yang sedikit lebih matang adalah hal yang tabu atau memalukan tentu kita bisa bersikap biasa dan menjawab dengan santai dan beranjak pergi tanpa memikirkan lagi pertanyaan itu. Kamu belum tentu siap menikah walaupun kamu menganggap bahwa dialah pasangan yang tepat dari artikel ini mungkin kamu bisa menemukan jawaban apakah kamu sudah siap menikah. Jangan terburu-buru pastikan waktu kamu meningkah adalah waktu yang tepat. Bukan waktu yang ditentukan oleh orang lain, keadaan, atau paksaan. Jangan lupa mintalah kepada Yang Di Atas agar diberikan kemudahan dan jalan yang terbaik.
Foto oleh: repromedimages
Pastikan kamu tidak ketinggalan suguhan teh Twentea! Kamu bisa berlangganan melalui RSS feed, email. Kamu juga bisa bergabung dengan Facebook Page.
Artikel Terkait
- [Sruput 20-an] Pertanyaan Hancur
- Orang tua Tidak Suka Pacar Baru-mu
- Duri Dalam Cinta – Perbedaan Agama
- Duri Dalam Cinta – Perbedaan Ekonomi
- Di Saat Jalinan Asmara Harus Diakhiri








Halaman Facebook
Ikuti kami di Twitter
November 24th, 2009 at 10:45 am
huaaay, saya (merasa) tau orang ini. nemu di RF trus pindah ke FB (yg sampai dengan komentar ini dituliskan masi renovasi)
eh dia ke mari juga ^^
ah, tulisan (tentang) ini lagi. ah, urusan budaya norma agama logika n rasa..
malas punya anak, malas menikah (itu tuh, kata kepribadian saya yang lain..)
November 24th, 2009 at 12:40 pm
untuk menguji kemampuan menulis saya yang ga seputar dunia web aja.. hahaha.. Smoga diterima oleh pembaca Twentea..
November 24th, 2009 at 3:09 pm
Saya setuju tentang the right person. Tapi kalo tujuan nikahnya cuma untuk dilayani, (“Padahal siapa sih yang tidak ingin ada yang ngerawat, ada yang bikinin makanan dan minuman?”) mending cari pembantu kali ya :p. Karena saya rasa hidup bersama seseorang itu bukan tentang itu. tapi tentang berbagi, bukan tentang ada yang melayani.
November 24th, 2009 at 3:13 pm
@maya: Jangan salah persepsi, bukan wanita ke pria aja yang bersikap demikian tapi pria juga bisa kan bertindak demikian terhadap wanita. Bukankah hidup berpasangan itu untuk saling memberi dan menerima bukan sekedar berbagi suka dan duka. Jadi jangan disalah artikan kalimat itu ya. Bukan bermaksud menganggap wanita sebagai pembantu.
Thanks.
November 25th, 2009 at 1:55 pm
topik ini memang selalu pas dan nonjok banget buat umur duapuluhan, tigapuluhan sampai empat puluhan. Kalo udah diatas empatpuluhan rasanya keburu pada males kali nanyanya.
November 28th, 2009 at 1:03 pm
@Lany: Jeung, itu tuh.. Yohan ngajak ngobrol saya.. pas? bisa jadi. nonjok? ah, inilah.. kenapa sih orang-orang itu hobinya nonjok? hahay..
@ Yohan : siap njendral. tulisannya diterima..
@ Maya : berbagi pelayanan aja, gimana? (ngebelain penulisnya..)
November 28th, 2009 at 3:22 pm
Kasih jawaban diplomatis aja “hmmm sampe sekarang belum ada yang cocok tuh”
December 1st, 2009 at 1:04 am
Untuknya orang tua saya belum pernah nanya soal pernikahan atau pasangan hidup.
Lah ialah… kerjaan aja belum punya.
December 7th, 2009 at 2:59 pm
waduh2 emang susah kalo usia sudah bertambah tapi belum juga bisa nikah, hiks3 kalo mesti nangis harus nangis, tapi kalo mesti seneng ya harus seneng, wong dengan belom nikah bisa nikmati masa muda dengan sesuka hati…
December 9th, 2009 at 7:48 am
Saya pikir wajar-wajar saja kalo cemas dimasa yg sudah setengah abad. orang tua yg bijak dan sayang dengan buah hati mereka pasti akan selalu memberikan yg terbaik. tinggal gimana kita sebagai anak menyikapinya. semua kembali kepada pilihan kita sendiri. semangat…!!!!
December 16th, 2009 at 4:48 pm
“belum siap..”
yah itu alesan yg menurut gw paling tepat tuk gw sekarang.. :p
December 30th, 2009 at 3:36 pm
wah, belum siap, belum ketemu, belum punya,
kalo kayak gini , pasti kebanyakan negatifnya…yang keluar dari orang lain,
tapi benar diri sendiri yang mesti putusin…apa dah siap ato belum….
semoga ja kita semua diberikan yang terbaik dari atas….