Hmm, rumah tua penuh sarang laba-laba. Kusam, tua, lusuh, dan terkadang mistis. Itu kesan pertama saya terhadap hasil maha karya si laba-laba, berupa sarangnya.
Dan kadang, terkagum-kagum saya dengan polosnya pada itu Film Spider Man. Si manusia berkacamata yang kurang gaul ternyata Super Hero dan dia menggunakan jaring tipis dari lengannya untuk kebaikan nyaris semua umat manusia (di film..) meski ia sendiri aslinya tetap geek – alias si manusia engga gaul sejagat, atau begitu lah kira-kira asumsi yang ingin digambarkan kepada para penontonnya.
Rasa penasaran membawa saya pada,, jeng jeng jeng jeng : mouse si tikus mungil dan kibor. Lantas, berselancarlah saya mencari kisah si laba-laba..
Laba-laba si hewan yang nampak malas dan menanti mangsa di sarangnya ternyata hewan yang cerdas dan kuat, serta pandai berstrategi.
Siapa mengira (sebab saya sih tidak), jaringnya itu meskipun ringan tetapi melebihi kekuatan baja sebagai bahan terkeras – dan sarangnya itu dibuat dengan strategi penuh pemikiran. Silakan membaca artikel tentang si laba-laba, oleh seorang mahasiwi biologi UGM di sini.
Laba-laba memiliki strategi kapan ia membuat sarang. Pandainya ia, berencana dan memikat mangsanya. Meski ia tak dapat terbang, begitu kata si penulis artikel si mahasiwi biologi itu (ketika menulis, ia masih mahasiwa – tahun 2006), laba-laba mampu menjerat mangsanya yang terbang. Keren, cerdas betul ia – si laba-laba. Yah, jika tidak kuat maka haruslah cerdas. Oh ya, ini era teknologi bukan? Sudah saatnya mengandalkan kekuatan otak, selain kekuatan fisik belaka. Sudah pula saatnya menggunakan pesona tak kasat mata, dan bukan sekadar pesona ragawi.
Laba-laba pun menjadikan sarang tersebut sebagai tepat memadukasih dengan pasangannya. Wow! Jadi meski hewan, berahasia juga dia.. Ah saya senyum sendiri mengingat istilah PDA – Public Display Affair. Laba-laba saja tidak PDA, malu deh ama laba-laba jika masih ada twentea’ers yang begitu..
Sayang laba-laba tak bisa berpikir, dan manusia bisa. Maka dari itu, manusia lah yang meneliti untuk mengembangkan kekuatan melebihi jaringnya si laba-laba. Silakan cek berita tersebut di sini.
Hebat benar si laba-laba.
Kembali pada film. Betapa Tobey si cupu, memiliki kekuatan besar setelah kecelakaan. Hingga ia memiliki jaring laba-laba. (Hey, masa sih kalian tak ada yang tau film tentang itu Spider Man??). Dan ia, si manusia laba-laba pada akhirnya mampu memikat itu pasangannya yang aduhai.
Kembali kepada rumah tua yang bersarang laba-laba. Betapa telah terjadi proses survival dan percintaan di sana, bersamaan dengan terbentuknya itu sarang laba-laba.
Hahay, saya jadi ingin belajar seperti laba-laba. Belajar berencana agar penuh strategi, survival handal, dan si pecinta yang merahasiakan cintanya alias tidak PDA.
Adakah twentea’ers yang mau belajar dari laba-laba bersama saya?
Hayuuk ^0^
Sebab belajar tak pernah salah, pada siapa dan apa saja, dan tak pernah berhenti sampai mati.
Laba-laba, kamu keren deh..
Foto oleh: Jim-AR
Pastikan kamu tidak ketinggalan suguhan teh Twentea! Kamu bisa berlangganan melalui RSS feed, email. Kamu juga bisa bergabung dengan Facebook Page.
Artikel Terkait
- Kontradiksi Manusia
- Pertanyaan Bermutu Untuk Bos
- Suka atau Disuka-sukain?
- Filosofi Kacamata Kuda Dalam Berkarya
- Profesional




Halaman Facebook
Ikuti kami di Twitter
December 11th, 2009 at 1:58 pm
aduh jeng Put.. kok aku mrinding disko ya kalo liat laba2 gede?
Stuja sama “Jika tidak kuat maka haruslah cerdas”!
December 13th, 2009 at 1:56 pm
@Lany: itu namanya fobia Jeung Lan. ya udin gak usah dipaksakan.. yang penting esensi pelajaran dari si maha laba-laba ajah (malah ingat si laba-laba raksasanya Hagrid di Harry Potter uii)