Kita harus menyelamatkannya! Aksi mengajak jadian atau yang lebih bekennya “menembak” di zaman yang serba gadget ini, semakin mengalami penurunan kualitas, sudah semakin tidak sakral lagi. Sudah jarang terdengar lagi aksi-aksi jantan (atau ‘jantin’ untuk wanita) nembak dengan bertatap muka, berlutut untuk memohon dan berjuang untuk cintanya dan sebagainya.
Kisah berseminya cinta antara wanita dan pria yang saling mengalami ketertarikan, normalnya diikuti dengan pendekatan. Sang cowok-pun mulai merasa sepertinya si cewek koq memberikan sinyal-sinyal ketertarikan sekaligus kebencian. Tiga bulan berlalu, mereka sudah kencan beberapa kali dan relasi mereka sudah lebih dari teman. Namun belum juga ada tanda-tanda si cewek mengizinkan kisah pertemanan ini menuju ke jenjang selanjutnya. Sang cowok pusing dan memutuskan besok adalah hari penentuannya, hari pengakhiran dari segala kebimbangan yang bagai sewindu lamanya ini! “Jadian atau gak usah kenal lagi sama sekali! Gw gak mau digantungin kek gini!”, pikirnya mantab di dalam hati.
Sang cowok merasa bimbang dengan cara menembak, hati kecilnya bergerumul dengan:
- “Jangan-jangan gw ga diterima! malu banget dah besok”.
- “Jujur aja, sebenarnya gw liat dia ga begitu suka gw”.
Kepercayaan dirinya semakin runtuh, karena tentu saja sebenarnya momen penembakan itu masih terlalu dini. Keyakinan untuk sukses dengan alasan-alasan yang masuk akal belumlah banyak. Tapi akhirnya ia nekat juga! Apa daya, nafsu untuk ngajak jadian sudah mentok. Tentu saja dengan menggunakan media teknologi yang memungkinkan agar tak perlu bertatap muka. “Biar kalo ditolak, gw kaga mokal”, pikirnya.
Bila kita benar-benar serius ingin jadian dengan si doi, seharusnya kitapun tidak ingin melewatkan sedetikpun momen-momen mendebarkan penuh gairah tersebut. Dengan bertatap muka, kita bisa mendapatkan tanda-tanda yang tak terlihat tapi bisa dirasa seperti: raut wajah, senyum, dan yang paling penting; tatapan mata. Tanda-tanda inilah yang “tak ternilai harganya”, dan patut dikenang sebagai momen terindah dalam hidup kita.
Janganlah jadi pengecut seperti contoh si cowok di atas. Ia “bersembunyi” dan mengajak jadian via telepon (itupun sudah gemeteran dan gagap). Setelah momen penembakan via telepon telah dikatakan, sang cewek pun merasa dirinya tidak dihargai dan tidak diperjuangkan oleh si cowok; Ia kecewa sekali, karena “hanya begini doang” prosesi ngajak jadiannya. “Huh, pengecut banget!” teriaknya di dalam hati. Padahal dibalik judes-judesnya, ia menyimpan perasaan cinta ke si cowok.
Si cowok terlalu berkonsentrasi untuk menyelamatkan mukanya bila cintanya ditolak, ia tidak memikirkan apa yang terjadi bila diterima, perasaan si cewek, dan sebagainya.
Jangan menembak apabila dalam mengatakan kalimatnya saja sudah membuatmu tergagap-gagap, itu artinya “Belum saatnya”. Teruslah mendekatkan diri dan pelajarilah sifatnya, kebiasaan buruknya, kebiasaan baiknya. Sudah tidak zamannya menembak tapi belum kenal luar dalam! Dekatkan diri semaksimal-maksimalnya kepada calon pasangan, lalu momen itupun tidak akan membuat kamu tergagap-gagap, malah yang ditembak menjadi tergagap-gagap karena berbunga-bunga hatinya melihat aksimu. Buktikanlah!
Foto oleh Digital Journal








Halaman Facebook
Ikuti kami di Twitter