Tenang-tenang. Ini adalah tentang kita, dan produk – baik benda maupun jasa.
Perkah teman-teman Twentea mendengar ungkapan-ungkapan semacam; korban mode, atau korban iklan. Atau jangan-jangan, Twentea’ers mengalaminya sendiri?
Oh sungguh, saya yakin, mengalami keadaan menjadi korban dua contoh di atas, pastilah memalukan. Apalagi jika kita pernah menjadi korban mode! Kentara sekali, jika kita tak paham alias kurang gaul..!
Kenapa bisa menjadi korban mode, atau korban iklan begitu?
Ada pelbagai alasan. Beberapa yang paling mudah terjadi, tetapi mungkin kita sering kurang menyadarinya, yaitu:
Mudah terbujuk rayu diskon
Barang-barang diskon umumnya mengalami kenaikan harga terlebih dahulu sebelum mendapat label “diskon XX%”. Untuk apa berburu barang diskon, jika tidak ada yang cocok dengan kita? Kecuali, jika kita hendak berdermakasih alias memburu barang-barang diskon, untuk tujuan amal. Saya tidak bisa berkomentar, deh…
Terperangkap jebak iklan
Tentu saja, korban iklan adalah jenis korban pastinya. Entah mengapa, iklan produk di negara kita kadang sungguh menyebalkan dan tidak penting.
Memang kenapa, jika muka saya pribumi alias berkulit eksotis?
Memang kenapa, jika rambut saya bergelombang dan kusut alias tidak licin sempurna?
Memang kenapa, jika tubuh saya berlebihan berat badan – thoh saya sehat dan tetap percaya diri dengan tubuh tersebut?
Dan memang kenapa, jika kita tidak memiliki tampilan fisik seperti di iklan?! Kita bukan boneka hasil cetakan pabrik. Ada sesuatu bernama gen, yang mempengaruhi tampilan fisik kita.
Tidak sadar diri
Oke, ini mungkin akan terdengar sadis. Tenangkan diri dulu, sebelum membacanya.

Wow nenek gaul!
Perhatikan diri kita baik-baik, di depan cermin. Lengkapi pengetahuan kita, untuk mempelajari diri kita sendiri – dari mulai bentuk wajah, tekstur rambut, sampai bentuk jempol kaki..!
Jangan ikuti peribahasa yang berbunyi; “gajah di depan mata tak nampak, kuman di seberang lautan nampak.”
Dengan demikian, dapatlah kita mencegah terjadinya “kecelakaan” penampilan sebelum waktunya.
* * *
Tenang saja. Pepatah bilang, tiada rotan akar pun jadi. Maka, jangan pernah ulangi lagi kesalahan alias keadaan menjadi korban tersebut.
Dan terakhir, yakinlah – seyakin-yakinnya yakin. Bahwa, tiap di antara kita adalah unik satu sama lain.
Bahwa kita, memiliki kuasa terhadap diri kita sendiri..!