Sebuah Narasi untuk Perayaan Idul Fitri di Tahun 2010.
* * *
Bagi yang beragama Islam, ibadah puasa dilakukan sebulan lamanya dengan tujuan membersihkan lahir dan batin. Menahan lapar dan dahaga, sebagai bagian dari menyehatkan pencernaan sebab pencernaan diistirahatkan sejenak. Dan menahan marah, iri, dengki, kecewa, sedih, dan luka batin lain sebagai bagian dari membersihkan batin itu sendiri. Kemudian, ada Idul Fitri, atau sering disebut Lebaran, sebagai apa yang (lagi-lagi) disebut orang sebagai Hari Kemenangan.
Sejak lahir, itulah agama saya. Agama yang terberi. Mari kita pindah dari urusan agama yang rentan, ke urusan yang lebih humanis. Tentang maaf.
Di Hari Kemenangan ini, semua saling bermaafan. Meminta dan memberi maaf. Perkara tulus atau tidak, hanya Tuhan dan Diri Sendiri yang mengetahuinya.
Tapi apakah yang dimaksud dengan kemenangan itu sendiri? Menang terhadap apa? Saya kira, ketika kita mampu meminta dan memberi maaf kepada diri sendiri, itulah makna kemenangan bagi saya.
Entahlah. Kembali saya tekankan, bahwa saya tidak sedang bicara tentang agama, melainkan tentang maaf itu sendiri. Terkadang, meminta apalagi memberi maaf kepada diri sendiri begitu sulit dilakukan. Padahal, dengan begitu, kita akan bisa menerima diri kita sendiri lengkap dengan masa lalu yang telah kita lalui.
Ketika kita sudah mampu memaafkan diri sendiri, yang maka kita mampu menerima diri sendiri seutuhnya, akan lebih mudah bagi kita untuk memaafkan orang lain dan menerimanya seutuhnya pula.
* * *
Kepada semua Pembaca – baik yang merayakan Idul Fitri atau pun tidak - bertepatan dengan Perayaan Idul Fitri ini, saya dan Kru Twentea, minta maaf untuk semua kesalahan yang disengaja atau tidak disengaja. Dan kami, mencoba semampu kami untuk tetap menyajikan tulisan-tulisan yang bermanfaat.
Mari saling memaafkan, dan menjadikan kehidupan ini lebih damai. Hidup terlalu singkat, hanya untuk diisi tanpa kedamaian.









Halaman Facebook
Ikuti kami di Twitter