Oke. Saya memang suka menulis. Meski kalau ditanya di bagian sebelah mana buku yang saya buat mejeng di Toko Buku Paling Populer se-Indonesia-Raya alias Gramedia, maka saya jawab : “Entah deh, belum nemu rak yang pas..” (Padahal aslinya tak ada! Atau belum?)
Lantas saya teringat buku-buku yang serupa Catatan Harian atau umum dikenal Diary dan terasa sooo girly, juga buku-buku yang dibuat dari hasil ber-blog-ria.
Haduh, banyak betul. Lantas kenapa saya bisa (semacam) menghimbau Twentea’ers di sini?
Adalah kawan saya dahulu kala ketika saya masih segar belia menjadi mahasiswi, seorang mahasiswi jurusan jurnalistik yang membantu menyehatkan kepala saya. Sebutlah inisial namanya itu FJ.
FJ menyarankan pada saya, agar saya menulis saja dengan lebih rapi sehingga pesan saya bisa sampai dengan baik. Dan terutama, agar saya bisa merumuskan emosi yang terjadi dalam diri ini.
Pernah mendengar kalimat bijak “tuliskan amarahmu di atas pasir, sehingga ia akan hilang tersapu ombak“? Jika belum pernah dengar, selamat! Kalian membacanya dari saya!
Menurut saya itu kurang tepat. Bagaimana pun, emosi negatif semacam amarah tidak selalu harus diabaikan, atau dianggap angin lalu. Bagaimana jika malah memicu dendam? Minimal, membuat uring-uringan dan mengganggu produktivitas.
Yang sebaiknya adalah, tuliskan saja emosi-emosi negatif dan kalau perlu yang positif itu.
Benar, tuliskan saja. Simpan tulisan itu untuk diulas sendiri pribadi, sehingga kita tahu duduk persoalan yang benar itu seperti apa. Mengapa emosi negatif itu bisa muncul? Apakah tidak ada sama sekali bagian positif dari apa yang kita rasakan atau alami atau inginkan?
Dan, ini tidak berkorelasi pula dengan jenis kelamin. Sebab, menulis adalah bagian dari aktivitas merekam memori.
Setelah emosi kita bisa terkendali, bakar saja itu kertas catatan. Atau buang total file catatan itu. Segalanya bisa teratur kembali.
Namun, ketika semuanya sudah benar-benar di luar kendali dan bahkan terapi menulis ini tak jua dapat membantu, hubungi psikiater terdekat.. Mungkin kamu butuh pertolongan dari yang ahli.
Foto oleh: Let It ParadOX
Pastikan kamu tidak ketinggalan suguhan teh Twentea! Kamu bisa berlangganan melalui RSS feed, email. Kamu juga bisa bergabung dengan grup Facebook.